Efisiensi Anggaran, Pemkab Jembrana Usulkan Perbaikan Bangunan Bersejarah Lewat BKK Provinsi

Persindonesia.com Jembrana — Keterbatasan kemampuan keuangan daerah akibat pengurangan transfer dana dari pemerintah pusat berdampak pada tertundanya perbaikan sejumlah bangunan bersejarah di Kabupaten Jembrana. Dua di antaranya adalah wantilan di kawasan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa–Bali, Gilimanuk, serta tugu perjuangan di Banjar Pebuahan yang roboh akibat abrasi pantai.

Kondisi kedua bangunan tersebut saat ini dilaporkan mengalami kerusakan parah. Pemerintah Kabupaten Jembrana pun berencana mengusulkan perbaikan melalui skema Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemerintah Provinsi Bali dengan harapan dapat direalisasikan pada tahun anggaran 2026.

Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Jembrana, I Gusti Bagus Ketut Oka Parwata, saat dikonfirmasi mengatakan, pengurangan transfer dana pusat memaksa pemerintah daerah melakukan efisiensi anggaran. Akibatnya, program-program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas utama.

Kunjungan Wisatawan Menurun, Target Retribusi DTW di Bangli Tahun 2025 Buyar

“Untuk pembangunan wantilan dan tugu perjuangan sudah kami usulkan melalui BKK Provinsi Bali,” ujarnya, Jumat (9/1)

Ia menegaskan, belum terealisasinya perbaikan melalui APBD murni bukan berarti pemerintah daerah mengabaikan keberadaan dua bangunan bersejarah tersebut. Menurutnya, Pemkab Jembrana tetap berupaya mencari sumber pendanaan alternatif agar perbaikan dapat segera dilakukan.

“Kami tetap memprioritaskan karena ini berkaitan dengan nilai sejarah dan perjuangan para pahlawan. Jangan sampai pemerintah daerah dinilai tidak peduli terhadap sejarah,” katanya.

Wabup Badung Apresiasi Kepatuhan Administrasi, Serahkan Penghargaan kepada Ahli Waris

Pembangunan kembali wantilan dan tugu perjuangan tersebut ditargetkan paling lambat dapat dilaksanakan pada anggaran perubahan tahun 2026. Namun, realisasi masih menunggu kepastian persetujuan anggaran dari Pemerintah Provinsi Bali, mengingat adanya sejumlah program prioritas lain yang juga harus dijalankan.

Diketahui, wantilan yang berada di kawasan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa–Bali mengalami kerusakan cukup parah sejak sekitar satu tahun terakhir. Atap bangunan ambruk akibat kondisi struktur yang telah lama lapuk dan diperparah oleh hujan serta angin kencang.

Bangunan yang terletak di sisi selatan monumen tersebut kini kehilangan sebagian besar atapnya. Material kayu bekas plafon dan atap telah dirapikan di sekitar lokasi, sementara sejumlah benda bersejarah seperti foto-foto yang sebelumnya tersimpan di dalam wantilan sudah tidak terlihat lagi.

CATAT! Ini Jadwal Layanan Inovatif Kertha Gosa di Nusa Penida Terbaru

Sementara itu, tugu monumen di Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, roboh akibat abrasi pantai. Tugu tersebut merupakan penanda sejarah di kawasan Pantai Pebuahan yang dibangun untuk mengenang peristiwa Perang Laut, yakni pendaratan pertama pasukan Kapten Markadi pada 4 April 1946. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *