Gereja Jadi Lokasi Strategis Edukasi Sampah, Putri Koster Gandeng WKRI Wujudkan Bali Bebas Sampah

Ny. Putri Suastini Koster, menggelar sosialisasi intensif manajemen sampah kepada komunitas WKRI di Gereja Yesus Gembala Yang Baik, Ubung, Denpasar, pada Sabtu (5/7/2025).

DENPASAR – Tempat ibadah kini tak hanya menjadi pusat rohani, tapi juga titik penting dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Hal ini terlihat saat Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Palemahan Kedas, Ny. Putri Suastini Koster, menggelar sosialisasi intensif tentang manajemen sampah kepada komunitas Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) di Gereja Yesus Gembala Yang Baik, Ubung, Denpasar, pada Sabtu (5/7/2025).

Acara tersebut dihadiri puluhan anggota WKRI DPD Bali-NTB sebagai bagian dari peringatan HUT ke-101 organisasi perempuan Katolik tertua di Indonesia. Ny. Putri Koster menyampaikan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat dalam menangani sampah, terutama dari tingkat rumah tangga.

“Masyarakat harus kembali ke konsep lama: selesaikan sampah di tempat asalnya. Rumah tangga harus menjadi titik awal penyelesaian, bukan titik awal masalah,” ujarnya dalam sambutannya.

Dalam paparannya, Putri Koster mengenang era 1980-an, ketika permasalahan sampah belum sebesar sekarang. Namun, perkembangan konsumsi plastik sejak tahun 1984 dan seterusnya membuat Bali menghadapi tantangan besar, yang diperparah oleh sistem pengelolaan sentralistik di TPA Suwung.

Sebagai solusi, ia memperkenalkan tiga langkah konkret: pemanfaatan tong komposter, pembangunan teba modern di rumah, dan optimalisasi fasilitas daur ulang seperti TPS3R. “Jika langkah ini dijalankan bersama, kita bisa mencegah krisis lingkungan yang lebih buruk,” katanya.

Pemerintah Provinsi Bali juga bersiap mengambil langkah ekstrem. Koordinator Pokja PSP PSBS, Dr. Luh Riniti Rahayu, mengungkapkan bahwa penutupan TPA Suwung akan dilakukan secara bertahap, dimulai Agustus 2025. “TPA Suwung sudah melebihi kapasitas dan melanggar ketentuan. Pemerintah pusat sudah beri ultimatum, Bali wajib menutupnya paling lambat Desember 2025,” tegasnya.

Tumpukan sampah setinggi 35 meter di atas lahan lebih dari 32 hektare dinilai telah menimbulkan ancaman kesehatan dan pencemaran yang serius. Oleh karena itu, peran komunitas, seperti WKRI, sangat dibutuhkan.

Prof. Ni Luh Kartini, salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut, turut memberi pelatihan praktis cara membuat eco enzyme menggunakan sampah dapur organik. “Solusi ada di tangan kita. Sampah bukan hanya masalah pemerintah, tapi juga tanggung jawab setiap warga,” ucapnya.

Ketua Presidium WKRI DPD Bali-NTB, Nisa Setiati, menyambut positif inisiatif ini. “Kami mendukung penuh gerakan Bali Bersih Sampah. Melalui jaringan WKRI yang tersebar di 14 DPC dan 36 ranting di wilayah Bali-NTB, kami siap bergerak bersama,” tegasnya.

Sosialisasi ini menjadi simbol kemitraan aktif antara komunitas keagamaan dan pemerintah dalam membangun Bali yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.@kr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *