Guru dan Literasi Digital Kunci Membentuk Siswa yang Berkarakter di Era Media Sosial

Denpasar Persindonesia.com – Pendidikan karakter sejak dini menjadi sorotan utama dalam diskusi yang digelar oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Denpasar, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan yang bertajuk “Membangun Generasi yang Berpendidikan dan Berkarakter Sebagai Fondasi Kuat untuk Masa Depan Bangsa” ini menekankan pentingnya peran guru dalam membimbing siswa menjadi pribadi berkarakter dan bermoral.

Plt. Kasubdit 3 Dit Intelkam Polda Bali, AKP I Nengah Mudarya, menyampaikan bahwa media sosial memberikan tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda. “Media sosial bisa menjadi sarana positif, namun tanpa pengawasan yang tepat, ia juga dapat memicu pengaruh negatif. Peran guru dalam memberikan pembinaan sangat penting, karena usia siswa masih labil dan mudah terpengaruh,” ujarnya.

AKP Mudarya menambahkan, perkembangan grup-grup di media sosial dapat memicu terbentuknya pengaruh buruk jika tidak dikontrol. Hal ini terlihat dari beberapa kasus kenakalan pelajar, termasuk insiden di kawasan Renon, Denpasar Timur. “Pembentukan karakter sejak dini sangat penting agar anak-anak memiliki arah yang jelas dan tidak terjerumus pada hal-hal negatif,” tambahnya.

Senada dengan itu, Kepala SMK Negeri 6 Denpasar sekaligus perwakilan MKKS, Putu Pasek Suardana, menekankan pentingnya literasi digital. Banyak informasi di media sosial yang menyesatkan atau berbeda antara judul dan isi, membuat siswa rentan terpengaruh hoaks. Ia menekankan bahwa generasi muda harus berhati-hati dalam menerima informasi dan tidak terlibat dalam gerakan negatif.

“Anak-anak saat ini sedang mencari jati diri. Lima belas hingga dua puluh tahun ke depan, kalian akan menjadi pemimpin. Kami tentu ingin pemimpin yang memiliki karakter kuat,” ujarnya. Ia juga mengingatkan siswa untuk mempersiapkan masa depan sejak dini dan tidak terpengaruh hal-hal negatif di lingkungan maupun media sosial.

Kepala Disdikpora Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, S.T., M.Si., menekankan nilai-nilai Catur Guru—orang tua, guru, pemerintah, dan Tuhan—sebagai landasan pendidikan. Ia menekankan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan formal, siswa akan menghadapi kehidupan yang lebih kompleks, sehingga karakter, disiplin, dan tanggung jawab harus dibentuk sejak sekarang.  “Kejadian kerusuhan pelajar di beberapa wilayah Indonesia menjadi pengingat bahwa masa depan tidak boleh dikorbankan karena hoaks atau ajakan yang salah. Siswa harus memahami konsekuensi setiap tindakan,” jelasnya.

Diskusi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, aparat, dan siswa dalam membentuk generasi muda Bali yang berpendidikan, berintegritas, dan siap memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

@Krg*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *