Hp Android Pemicu Meningkatnya Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Jembrana

Persindonesia.com – Jembrana Ponsel pintar berbasis android salah satunya memicu terjadinya kekerasan seksual terhadap anak yang meningkat di Kabupaten Jembrana. Menurut data yang diperoleh dari tahun 2022 terjadi kasus sebanyak 30 kasus, sedangkan di tahun 2023 dari bulan Januari dampai bulan Mei baru terdapat 7 kasus.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, berbagai upaya dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Jembarana dengan melakukan sosialisasi kesekolah-sekolah mulai dari tingkat SD sampai ketingat SMA. Selain itu PPA juga menyasar organisasi wanita yang ada di Kabupaten Jembrana.

Sosialisasi lanjutan kali ini, dihadiri oleh Perwakilan Dinas PPAPPKB, KUPT PPA Ida Ayu Sri Utami Dewi, Wakil Ketua Forum Puspaga/Pemerhati Anak Ni Putu Witari dan Duta Anak Bali 2023 serta Forum Anak Kabupaten Jembrana yang bertempat di SMPN 3 Negara Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana.

Rapat Kerja (Raker) Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Dihadiri Wakil Walikota Tangerang

Saat dikonfirmasi, Kepala UPTD PPA Ida Ayu Sri Utami Dewi mengatakan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Jembrana dikatagorikan mengkhawatirkan. kasus tersebut terilang menigkat sekitar hampir 80 persen kasus. Rabu (7/6/2023)

“Dari total 37 kasus yang dilaporkan, sebagian besar telah memasuki tahap keputusan sidang, sedangkan beberapa kasus masih dalam proses putusan. Selain itu, terdapat juga kasus yang sedang menunggu proses banding dan pendampingan,” jelasnya.

Sri Utami menjelaskan peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Jembrana terjadi sejak dimulainya pandemi. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tersebut adalah perkembangan teknologi, seperti ponsel pintar berbasis Android. “Anak-anak seringkali tidak mampu mengontrol akses ke situs-situs atau tautan porno. Sifat rasa penasaran yang tinggi pada anak-anak membuat mereka tertarik untuk mengeksplorasi hal-hal yang sebenarnya tidak boleh mereka ketahui,” terangnya.

Luar Biasa, AA Prabu Natha Negara PGA, Sabet Dua Emas Porsenijar

Menurutnya, banyak orang tua yang keliru berpikir bahwa anak-anak mereka menggunakan ponsel pintar untuk belajar, padahal dalam banyak kasus, penggunaan ponsel pintar menjadi pemicu meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak. “Anak-anak yang menghabiskan waktu mereka dengan memegang ponsel dan mengakses situs berbahaya sering kali menjadi penasaran dan ingin mencoba hal-hal yang belum mereka pahami dampaknya,” ucapnya

Untuk mengatasi masalah ini, Sri Utami melanjutkan, pihaknya telah melaksanakan sosialisasi di berbagai banjar dan organisasi wanita di Jembrana, termasuk organisasi anak-anak muda. Sosialisasi tersebut melibatkan pihak kepolisian, kejaksaan, dan tim perlindungan perempuan dan anak. “Kegiatan sosialisasi ini dilakukan menjelang libur selama sebulan untuk mengantisipasi kejadian yang mungkin terjadi,” ujarnya

Lebih jelasnya Sri Utami mengatakan, meskipun di sekolah, anak-anak dapat diawasi oleh guru-guru, namun situasi menjadi lebih khawatir saat mereka libur. Pihaknya berencana menyasar sekolah menengah atas dalam waktu dekat, setelah selesai dengan sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. “Rencana kami kedepan akan melibatkan Kominfo terkait penggunaan ponsel pintar berbasis Android. Kami terus berupaya melakukan sosialisasi dari berbagai sudut untuk setidaknya meminimalisir kasus kekerasan terhadap anak,” tandasnya. S

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *