PersIndonesia.Com,Bangli- Seorang perempuan yang berstatus Ibu Rumah Tangga (IRT) bernama Ni Putu Wahyuni (28) asal Dusun Sidawa, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli ditemukan tak bernyawa dalam posisi tergantung di kamar mandi. Kejadian tragis ini sontak mengegerkan warga.
Berdasarkan informasi yang terhimpun peristiwa gantung diri terjadi pada hari Senin (16/6). Peristiwa berawal saat saksi bernama Putu Wina Selviana (red-anak korban) hendak mandi seketika terkejut karena saat membuka pintu kamar mandi melihat ibunya (red-korban) dalam posisi tergantung.
Baca Juga : Miris! Kegaduhan di Arena Tajen Songan Sebabkan 1 Nyawa Melayang Tertusuk Sajam
Melihat hal itu kemudian Putu Wina berteriak dan memanggil saksi I Nengah Agus Setiawan, yang kemudian mengecek ke kamar mandi dan mendapati korban tergantung dengan kondisi kaki sudah membiru. Selain Nengah Setiawan teriakan Putu Wina juga didengar oleh saksi I Wayan Suanda yang saat itu berada didapur.
Melihat kondisi korban gantung diri dengan selendang, I Wayan Suanda berusaha menolong korban dengan memotong selendang menggunakan pisau. Untuk penanganan lebih lanjut kejadian tersebut dilaporkan ke petugas kepolisian.
Kapolsek Bangli, Kompol Dewa Suryatmaja saat dikonfirmasi Selasa (17/6) membenarkan adanya peristiwa tersebut. Dari hasil olah TKP petugas tidak menemukan adanya tanda tanda kekerasan. Sementara dari keterangan saksi saksi yang terhimpun petugas, diketahui jika korban sudah lama menderita sakit yang tak kunjung sembuh.
Kasus ini murni bunuh diri, hal ini diperkuat dari hasil pemeriksaan luar tubuh korban oleh Kepala Puskesmas Bangli dr Anak Agung Gede Mahendra Putra. “Kuat dugaan korban gantung diri karena depresi akibat sakit yang dideritanya”, terang Kapolsek Bangli.
Baca Juga : Pura Terbesar di Eropa Diresmikan di Polandia, Jadi Simbol Diplomasi Budaya Indonesia
Kapolsek Bangli juga menyampaikan, atas kejadian yang dialami korban, pihak keluarga menyatakan menerima dan tidak melakukan upaya hukum. “Pihak keluarga menerima kematian korban dan menganggap sebagai sebuah musibah”, terang Kompol Suryatmaja.(*)






