BONDOWOSO, Persindonesia.com – OPINI – Peribahasa kuno mengatakan “Jika kerbau dipegang talinya, jika manusia dipegang mulutnya”. Artinya kurang lebih janji harus ditepati. Janji ini tentu bukan hanya janji kepada satu atau dua orang, tapi secara luas bisa diartikan sebagai konsistensi ucapan seseorang. Bila pagi dia berkata hijau, sore harinya tetaplah hijau. Konsistensi ini yang membuat kita bisa dihargai oleh orang lain. Bayangkan jika konsistensi ini tidak dimiliki oleh seorang calon pemimpin, Bupati misalnya. Ngeri …
Saya jadi teringat kepada sosok Raden Bagus. Dia adalah pengganti sementara Bupati yang telah habis masa jabatannya beberapa waktu yang lalu. Dalam beberapa kesempatan wawancara kepada media, pernyataannya selalu berubah-ubah. Aneh bin ajaib.
Pada 25 Maret 2024, saat Raden Bagus diisukan mendapat dukungan untuk maju dalam kontestasi Pilkada, dia menyatakan belum memasang strategi apapun. Raden Bagus menerangkan jika bentuk dukungan dari manapun dia akan secara lapang dada menerima, karena hal itu merupakan aspirasi masyarakat. “Ya alhamdulillah, saya kan selalu maju ke depan” ucapnya diiringi senyum.
Selanjutnya pada 4 April 2024, Raden Bagus diisukan kampanye gratis melalui program bantuan beras kepada masyarakat miskin. Isu tersebut muncul karena pada kemasan beras bantuan tersebut terpampang foto Raden Bagus. Menanggapi hal itu dia membantah, dan menjelaskan bahwa pencantuman foto dirinya hanya agar masyarakat tahu siapa pemimpin kabupaten saat ini.
Lebih tegas lagi, dia mengatakan “Siapa yang mau nyalon, saya hanya ingin menjalankan amanah yang saya emban saat ini sebagai Pj. Bupati. Bagi saya rumor itu promosi gratis”. Jelas tersirat makna dari ucapan itu bahwa Raden Bagus sama sekali tidak memiliki niat untuk mencalonkan diri.
Namun pada 19 April 2024, lain lagi ceritanya. Kala itu santer kabar masyarakat menginginkan sosok pemimpin putra daerah. Menanggapi hal itu Raden Bagus mengatakan bahwa dia tidak ingin mematahkan harapan masyarakat. “Bismillah, saya nunggu dawuh (perintah) dari kyai” ungkapnya.
Cerita selanjutnya tentu kita sudah sama-sama tahu bahwa Raden Bagus akhirnya maju dalam kontestasi Pilkada.
Dalam hati saya jadi bertanya-tanya, inikah sosok yang akan menjadi pemimpin masyarakat dalam 5 tahun kedepan? Yang untuk mengutarakan keinginannya saja harus berkamuflase, berpura-pura seakan tidak haus jabatan? Bagaimana nanti dia akan menepati janji-janji politiknya untuk membangun kabupaten ini???
Saya jadi teringat salah satu petuah guru ngaji saya tentang konsistensi seorang laki-laki. Beliau mengatakan bahwa segala yang kita ucapkan sama halnya dengan janji, jadi harus ditepati. “Jangan menyebut dirimu seorang lelaki jantan, jika janjimu selalu kau ingkari”, begitu Beliau berpesan.
Beliau juga mengatakan bahwa dalam salah satu hadits diriwayatkan “Barang siapa tidak menepati janji seorang muslim, niscaya ia akan mendapat laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan.” (HR. bukhari & Muslim)
Sungguh ngeri saya membayangkan hal ini. Walaupun dalam politik, kita sudah terbiasa dibohongi dan dibuai oleh janji-janji palsu, namun ini sunguh berbeda. Bagaimana nanti jika kita benar-benar dipimpin oleh sang Raden Bagus ini???
(AYS)






