Kementan RI Pantau Peredaran Beras Oplosan di Jembrana

Persindonesia.com Jembrana – Maraknya isu peredaran beras oplosan di sejumlah daerah disikapi serius oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Melalui Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Denpasar, Kementan melakukan pemantauan langsung di Kabupaten Jembrana, Bali, pada Kamis (7/8).

Petugas BPTU HPT Denpasar menyisir satu per satu kios beras di Pasar Umum Negara, pasar terbesar di Kabupaten Jembrana. Kegiatan ini bertujuan memastikan tidak ada peredaran beras oplosan di wilayah tersebut, serta memantau dampak isu tersebut terhadap aktivitas jual beli di pasar.

Dari hasil pemantauan hari ini, petugas tidak menemukan adanya peredaran beras oplosan seperti yang dikhawatirkan masyarakat. Sebagian besar beras yang dijual merupakan produksi pabrik lokal. Isu beras oplosan pun dinilai tidak berdampak signifikan terhadap penjualan maupun minat beli masyarakat.

Tiga Teratas Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Bali

“Kebetulan di Bali, terutama di Pasar Tradisional Negara, mayoritas beras yang beredar adalah produk lokal. Hanya satu jenis beras yang berasal dari Banyuwangi. Menurut para pedagang, isu beras oplosan tidak memengaruhi daya beli masyarakat,” ujar Kepala BPTU HPT Denpasar, drh. I Gusti Putu Ngurah Raka.

Ia menambahkan, pemantauan seperti ini akan terus dilakukan secara berkala, bekerja sama dengan Satgas Pangan dan instansi terkait lainnya. Tujuannya, memberikan efek jera bagi pelaku pengoplosan beras yang merugikan masyarakat.

Sementara itu, salah satu pedagang beras di Pasar Umum Negara, I Nyoman Kantun, juga membantah adanya peredaran beras oplosan di Jembrana. Ia mengakui daya beli masyarakat memang mengalami penurunan, namun bukan disebabkan isu beras oplosan.

Operasi Pasar di Bangli, 200 Gas LPG 3 KG Ludes Diserbu Warga Dalam Sejam

“Kalau pembeli sekarang memang agak menurun, mungkin karena kondisi ekonomi. Tapi kalau soal beras oplosan, sejauh ini tidak ada di toko saya. Harga beras premium masih di kisaran Rp16.000 per kilogram, dan beras medium Rp15.000 – masih normal,” ungkapnya.

Maraknya kasus beras oplosan belakangan ini memang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pemerintah pun didesak untuk menindak tegas para pelaku pengoplos bahan pangan pokok demi menjaga ketahanan dan keamanan pangan nasional. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *