
Persindonesia.com – Jembrana Keluhan para pemilik perahu slerek di TPI Pengambengan tentang sering terjadinya kebocoran ikan yang dialaminya hingga kerugian perhari mencapai sekira 1 ton lebih tiap harinya, kini mengadu kepada Bupati Jembrana.
Kebocoran juga diduga terjadi di penimbangan ikan, dimana banyaknya adanya panol (tukang angkut ikan) yang bermain nakal sebelum ikan sampai di penimbangan yang sebelumnya sudah di timbang di kapal terjadi pengurangan jumlah ikan.
Pembukaan Pariwisata Internasional, Dinas Pariwisata Bali Siapkan SOP Terintegrasi
Bahkan ada indikasi juga pada saat kapal sleret hendak pulang dari menangkap ikan, di tengah perjalanan oknum ABK menjual hasil tangkapan tersebut tanpa sepengetahuan pemilik kapal, sehingga diduga kerugian mencapai kisaran 1 ton perhari.
Diketahui akibat kebocoran yang terjadi mencapai kerugian sekitar 15 juta pertahun. Ada pun Jumlah kapal dan jukung yang beroperasi di Kabupaten Jembrana hampir sebanyak 2.754 ribu unit, namun, yang beroperasi sampai saat ini sebanyak sekitar 39 unit, untuk nelayan kecil sebanyak 2.630 unit yang beroperasi di Kecamatan Jembrana dan Kecamatan Negara.
Pengurus HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia) Sakirin mengatakan, disini banyak sekali keresahan-keresahan dari para nelayan, terjadi benturan dan gesekan-gesekan antara pemilik perahu dan oknum pencuri ikan sehingga berlanjut ke kepolisian. Selain itu juga terkait pendistribusian di TPI banyak sekali pengecer-pengecer ilegal yang membawa ikan entah itu dari mana.
“Kebocoran tersebut diduga juga terjadi diakibatkan adanya panol (tukang angkut ikan) nakal dan para pengunjung yang meminta ikan, yang indikasinya secara kerjasama. Hal tersebut terjadi sudah dari puluhan tahun di TPI Pengambengan sampai sekarang ini kami tidak bisa mengatasi,” terangnya, Selasa (28/9/2021).
Tekan Kebocoran Pendapatan Hasil Ikan, Bupati Tamba Tatap Muka Dengan Para Nelayan
Tidak sampai disitu, lanjut Sakirin, kebocoran juga terjadi pada saat perahu sedang datang melaut. Ditengah laut diduga ada indikasi dari oknum ABK nakal yang menjual hasil tangkapan ditengah laut sehingga tiap hari pihaknya merasa rugi kisaran 1 ton sampai 2 ton.
“Kami sebagai pemilik perahu slerek setiap ABK sudah memberi sehabis melaut mereka dikasi ikan lemuru sebanyak 1 plastik untuk dibawa pulang. Setiap perahu mengajak ABK sekira 40 orang,” ujarnya.
Nenek Yayah Tidak berhenti Menangis, Ketika di Kunjungi Danrem 045/Gaya Dan Ketua Persit
Menyikapi aduan dari para pemilik kapal dan nelayan tersebut, Bupati Jembrana I Nengah Tamba di dampingi Kapolres Jembrana diwakili oleh Kasat Reskrim Polres Jembrana langsung bertatap muka dengan para pemilik kapal dan nelayan di TPI Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana.
Dirinya mengatakan, sumber pendapatan dari Kabupaten Jembrana memang sedikit tidaknya berasal dari hasil dari pada para nelayan. Akan tetapi untuk sementara hasil tidak sesuai dan maksimal. “Ini perlu ada pengkajian lebih lanjut agar cepat teratasi baik itu pemilik kapal dan pedagang ikan di Kabupaten Jembrana,” terangnya.
Lapangan Tembak Sudirman Diresmikan, Kasdam Ucap Disini Akan Lahir Atlet Handal
Perlu diingat, lanjut Tamba, disini adalah pusat tenaga kerja dan hampir semua dari Jembrana, meraup ribuan tenaga kerja, semua itu perlu perlindungan yang sangat baik, pemilik kapal dan semuanya bisa berjalan baik sehingga perputaran ekonomi berjalan lancar. “Keputusan hari ini belum kami putuskan harus dikoordinasi lebih lanjut lagi,” jelasnya.
Adanya kebocoran, imbuh Tamba, jika ada indikasi dari oknum tukang timbang, pihaknya jelas akan memberi sanksi jabatan dipertaruhkan. “Kalau memang terbukti ini sudah tidak benar, kalo pegawai ini di rayu-rayu tidak mau jalan tentu hal ini tidak akan terjadi, ini merupakan nilai sebuah kejujuran dalam tugas,” tutupnya. (sb/ed27)






