Persindonesia.com Jembrana – Kebijakan pemerintah pusat yang tidak lagi mengangkat Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berdampak pada krisis tenaga pendidik di sejumlah sekolah di Kabupaten Jembrana. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya guru yang memasuki masa pensiun, sehingga semakin menambah beban dunia pendidikan di Bumi Makepung.
Salah satu sekolah yang terdampak adalah SMP Negeri 1 Negara. Sekolah tersebut saat ini mengalami kekurangan delapan guru. Kondisi tersebut membuat sebagian guru harus mengajar melebihi beban kerja ideal, bahkan mencapai lebih dari 30 jam pelajaran per minggu.
Saat dikonfirmasi, Kepala SMPN 1 Negara, I Ketut Tastra mengatakan, kekurangan guru paling dirasakan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Bahasa Indonesia, serta Informatika.
“Guru olahraga kami hanya dua orang untuk melayani 31 rombongan belajar. Kalau ditangani oleh dua guru saja, beban mengajarnya bisa lebih dari 40 jam. Akhirnya kami membagi sebagian jam kepada guru lain yang selama ini membantu mengajar olahraga,” ujarnya, Senin (29/6).
SPMB Tahap Pertama di SMPN 1 Negara Rampung, 173 Calon Murid Dinyatakan Lolos
Selain PJOK, kekurangan guru juga terjadi pada mata pelajaran Informatika. Saat ini sekolah hanya memiliki dua guru Informatika, sementara dengan diberlakukannya kurikulum baru, guru yang sama juga harus mengajar mata pelajaran Coding.
“Guru Coding belum ada sama sekali. Akhirnya kami memasukkan mata pelajaran Coding kepada guru Informatika, sehingga mereka mengajar dua mata pelajaran sekaligus,” katanya.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, kata Tastra, sebagian jam pelajaran Informatika dialihkan kepada guru yang memiliki latar belakang pendidikan linier, yakni guru Matematika dan IPA. Namun, solusi itu dinilai belum ideal karena kedua kelompok guru tersebut juga telah memiliki beban mengajar yang tinggi, termasuk tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah.
“Rata-rata guru kami mengajar di atas 30 jam per minggu, sehingga cukup menyulitkan dalam penyusunan jadwal pelajaran,” ungkapnya.
Terkesan Kumuh, Alun Alun Bangli Jadi Tempat Penitipan Permainan Anak
Menurutnya, kebutuhan ideal tenaga pendidik di SMPN 1 Negara saat ini mencapai sekitar 60 orang. Sementara jumlah guru yang tersedia baru 52 orang. “Kalau dihitung secara keseluruhan, kami masih kekurangan sekitar delapan guru agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih optimal,” jelasnya.
Ia merinci, kebutuhan ideal meliputi sedikitnya delapan guru Bahasa Indonesia, tujuh hingga delapan guru Matematika, serta minimal tiga guru Informatika. Dengan jumlah tersebut, beban mengajar guru masih berada dalam batas normal sesuai ketentuan.
Di sisi lain, tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMPN 1 Negara turut menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pembelajaran.
Tastra menjelaskan, secara sarana dan prasarana sekolah sebenarnya mampu membuka hingga 11 rombongan belajar (rombel). Hal itu didukung dengan ketersediaan 32 ruang belajar, termasuk 11 ruang kelas yang kosong setelah ditinggalkan siswa kelas IX.
Naas, Ibu Dan Anak di Klungkung Tertimpa Pohon Kelapa Tumbang Saat Hendak ke Sawah
Namun, tahun ajaran 2026/2027 sekolah hanya membuka 10 rombel karena keterbatasan jumlah guru. “Kalau guru kami mencukupi, sebenarnya bisa membuka 11 rombel. Ruang kelas tersedia, tetapi kami tidak ingin memaksakan karena tenaga pendidiknya belum mencukupi,” tegasnya.
Ia menambahkan, penetapan jumlah rombel juga harus sesuai dengan izin yang diberikan pemerintah berdasarkan data sarana dan prasarana yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Apabila jumlah rombel yang dibuka tidak sesuai dengan data tersebut, sistem Dapodik tidak akan memvalidasi.
Terkait kondisi bangunan sekolah, Tastra menyebut sebagian besar ruang kelas masih layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Meski demikian, terdapat beberapa ruang yang mengalami kerusakan ringan dan membutuhkan perawatan, seperti pengecatan.
Selain itu, dua ruang kelas di sisi selatan sekolah telah diusulkan untuk direvitalisasi melalui Dapodik setelah sebelumnya mengalami kerusakan.
Lelaki Berusia 38 Tahun Terciduk Polisi di Gianyar Gegara Sikat Dua Burung Warga
“Usulan revitalisasi sudah kami ajukan lengkap dengan dokumentasi kondisi bangunan dan informasinya sudah diterima. Saat ini kami masih menunggu realisasi bantuan dari pemerintah,” pungkasnya. Ts






