Limbah Pertanian dan Rumah Tangga Diolah Jadi Produk Bernilai di Tukadaya

Persindonesia.com Jembrana — Pemanfaatan limbah rumah tangga, peternakan, dan pertanian dikembangkan masyarakat Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang dilaksanakan Universitas Mahasaraswati Denpasar bersama Universitas Triatma Mulya. Memasuki tahun kedua, kegiatan difokuskan pada peningkatan keterampilan masyarakat, penerapan teknologi tepat guna, serta pengembangan produk pertanian dan agroindustri.

Desa Tukadaya memiliki masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan peternak. Kondisi tersebut menjadi modal untuk mengembangkan pemanfaatan hasil pertanian sekaligus mengolah limbah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga dan usaha pertanian.

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah konsep ekonomi sirkuler, yakni mengolah kembali bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah agar dapat digunakan dan memiliki nilai tambah.

Ibu Laporkan Suami Sendiri, Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak 11 Tahun di Klabang Terbongkar

Pada kelompok masyarakat, limbah rumah tangga diolah melalui teknologi Teba Modern yang mengadaptasi konsep pengelolaan limbah berbasis kearifan lokal Bali. Hasil pengolahan diarahkan menjadi pupuk organik padat. Limbah rumah tangga lainnya juga dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik cair (POC) yang dapat digunakan dalam budidaya sayuran.

Pengolahan limbah juga dilakukan oleh Kelompok Tani Sari Maju. Kegiatannya meliputi pengolahan biourine menjadi POC, pembuatan pupuk organik, pestisida nabati dan pestisida hayati, serta peningkatan kemampuan dalam pengelolaan usaha kelompok.

Pada tahun kedua, kegiatan mencakup instalasi biourine dan pelatihan penggunaannya, penerapan teknologi pembuatan sabun cuci tangan berbahan air rebusan sereh, pelatihan pembuatan pestisida nabati dan hayati, pembuatan Trichoderma, serta pengayaan pupuk organik padat.

Pelatihan tersebut diarahkan agar masyarakat tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengoperasikan dan mengembangkannya secara mandiri sesuai kebutuhan.

Polisi Gerebek Warung di Gilimanuk, 2.314 Bungkus Rokok Tanpa Cukai Disita Pedagang Turut Diamankan

Sejumlah hasil produksi tercatat dari kegiatan tersebut. Pada kelompok sasaran pertama, produksi yang dihasilkan meliputi 250 kilogram kakao fermentasi, 500 kilogram pupuk organik padat, dan 250 liter biourine.

Sementara kelompok sasaran kedua menghasilkan 100 liter POC dari limbah rumah tangga dan 50 kilogram sayuran. Kelompok tersebut juga mengembangkan sabun cuci tangan berbahan rebusan daun sereh dengan target produksi sedikitnya 10 liter.

Selain produksi, kegiatan tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas anggota kelompok. Sebanyak 80 persen anggota tercatat telah memahami pemanfaatan teknologi Si-Otong untuk pembuatan POC. Fermentasi kakao juga dikembangkan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil pertanian.

Pengembangan kelompok tidak hanya diarahkan pada aspek produksi, tetapi juga mencakup kelembagaan, pemasaran, dan keberlanjutan usaha. Program tersebut dirancang berlangsung selama tiga tahun dengan kemandirian kelompok masyarakat sebagai salah satu sasaran akhirnya.

Bupati Satria Minta Kontraktor Atasi Debu dan Kebut Pengerjaan Jalan Sampalan-Toyapakeh

Pemanfaatan limbah melalui pendekatan ekonomi sirkuler diharapkan dapat memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Selain mengurangi limbah, hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pertanian dan berpotensi menjadi sumber pendapatan.

Dengan demikian, potensi pertanian dan peternakan yang dimiliki Desa Tukadaya tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai produk turunan yang mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat. Ts

Artikel Persindonesia