Menjelang Karya Maligia Punggel Puri Agung Bangli Laksanakan Pembuatan Jajan Suci, Ini Maknanya

PersIndonesia.Com,Bangli- Berbagai persiapan terus dilakukan krama banjar adat Puri Agung Bangli, Desa Adat Kawan, Kabupaten Bangli menjelang karya Maligia Punggel. Setelah prosesi memiut yang dilaksanakan pada Jumat (11/4) lalu. Rangkaian Maligia Pungel kali ini, dilaksanakan prosesi ‘nyuci’, Selasa (10/6/2025).

Untuk prosesi pembuatan jajanan suci ini, dipuput Ida Pedanda Istri Agung dari Griya Manuaba Giri Jati Soetha Sentana Bukit Bangli. Prosesi diawali persembahyangan bersama memohon kelancaran pelaksanaan karya tersebut.

Prosesi ‘nyuci’ menandakan dimulainya pembuatan berbagai jenis jajanan suci yang nantinya akan dipergunakan sebagai sarana bakti dalam karya Meligia Punggel yang puncaknya jatuh pada Saniscara Pahing Kelawu, (23/6/2025) mendatang. Total jumlah jajan yang dibuat, masing-masing jenis mencapai ratusan.

Menurut Ida Pedanda Istri Agung, prosesi ‘nyuci’ adalah awal dimulainya pembuatan berbagai jajanan suci yang nantinya akan dipergunakan sebagai sarana bakti untuk karya Maligia Punggel. “Jajanan yang dibuat sekarang untuk sarana bakti nyatur niri dan nyatur mukti. Ada 11 jenis jajanan suci sekarang dibuat,” ujar Ida Pedanda Istri Agung selaku Tarpini dalam Karya Maligia Punggel di Puri Agung Bangli.

Lanjut disampaikan, sesuai namanya prosesi nyuci yang dilaksanakan jelang karya besar di Bali itu memang tergolong sakral. Sebab, yang diutamakan adalah kesucian. Karenanya, perempuan yang cuntaka (haid) dan menyusui tidak diperkenankan ikut dalam prosesi nyuci. Selain itu, para istri yang turut dalam proses pembuatan jajanan suci, wajib mengenakan sengkulung (pengikat kepala) dari kain atau janur. Maknanya, agar dalam proses pembuatan jajanan suci tersebut, tidak sampai tercemar kotoran kepala atau pun rambut.

“Yang terpenting pikiran, perkataan dan perbuatan saat pelaksanaan nyuci harus suci,” ungkap Ida Pedanda Istri Agung.

Sebelumnya, Manggala Karya Meligia Pungel Puri Agung Bangli, A. A. Gde Putra Wiraguna menjelaskan makna pelaksanaan upacara pemiut untuk pembesihan sekala niskala sebagai awal dari rangkaian karya Maligia Punggel. Selain untuk membersihkan atau penyucian lokasi karya.

Yang terpenting adalah untuk penyucian hati dan pikiran bagi warga yang akan melaksanakan karya Meligia Punggel supaya lebih fokus dalam menyukseskan bersama-sama setiap tahapan dan rangkaian karya tersebut. “Untuk itu, pikiran, perkataan dan prilaku kita dalam menjalankan karya ini sampai akhir harus dijaga kesucianya,” tegas Agung Wiraguna yang juga Ketua Maha Gotra Tirta Harum (MGTH).

Untuk diketahui pelaksanaan Maligia Punggel di Puri Agung Bangli tahun ini, dilaksanakan setelah 8 tahun pelaksanaan Maligia Punggel pada tahun 2017 lalu di lokasi yang sama. Saat ini, tercatat sebanyak 53 Puspa dari banjar adat Puri Agung Bangli dan 11 Puspa pengiring yang akan ikut dalam Maligia Punggel di Puri Agung Bangli. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *