Moci Bareng Gurune, Strategi Pembelajaran Pasca PPKM

Tegal – Perkembangan teknologi dan informasi yang sedemikian pesat memudahkan proses pembelajaran di masa pandemi menggunakan metode daring  dengan istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Meski proses pembelajaran sepertinya tergantikan oleh mesin, tetapi peran guru dalam dunia pendidikan tak akan tergantikan.

Kemajuan teknologi khususnya internet dalam PJJ memang sangat membantu guru dan peserta didik. Tetapi di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa proses PPKM yang panjang membuat dampak negatif yang mengganggu proses pembelajaran.

Dampak negatif yang dirasakan antara lain adalah ketergantungan peserta didik akan gawai, yang sayangnya porsi yang besar tidak untuk belajar. Kemalasan untuk belajar di rumah saat PJJ juga semakin lama semakin meningkat. Dan orang tua sebagai pemegang otoritas peserta didik di rumah juga merasa kewalahan. Idealnya proses pembelajaran tidak sepenuhnya menggunakan model daring, ada kewajiban mendidik yang harus menyentuh peserta didik melalui suara, tatapan dan tindakan agar pikiran dan hati dapat berkembang.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran yang terjeda oleh PPKM saat ini dapat kembali ke jalur yang semestinya? Sambil menunggu proses pembelajaran tatap muka (PTM) yang kemungkinan akan dilaksanakan sebentar lagi, guru harus mempersiapkan strategi yang matang, strategi yang mampu mengembalikan peserta didik ke jalur pembelajaran yang semestinya.

Moci Bareng Gurune adalah strategi pembelajaran inovatif yang mengakulturasi nilai-nilai filosofis tradisi Moci masyarakat Tegal dengan metode pembelajaran kelas terbalik (flipped classroom). Poci adalah sebuah bentuk arsitektur, alat untuk meminum teh (ngeteh) terbuat dari gerabah, bentuknya bulat telur, memiliki tutup, dan ujungnya memanjang.

Sedangkan moci merupakan budaya minum teh sebagai teman ngobrol, biasanya dilakukan dengan cara beramai-ramai. Menurut Abu Su’ud dalam bukunya Umar (2015) yang berjudul “Museum Sekolah Slawi Di Kabupaten Tegal”, kebiasaan minum teh poci atau moci telah menjadi tradisi bagi orang Tegal, ini disebabkan pertumbuhan pabrik teh di Tegal pada tahun 1930-an yang menyebabkan tradisi itu berkembang. Minum teh menjadi gencar sejak zaman kolonial hingga kini dan sudah menjadi budaya lokal.

Perkembangan modernisasi dan globalisasi tidak mempengaruhi perilaku dan tindakan masyarakat Tegal dalam menikmati teh seduh dalam poci gerabah, sehingga budaya moci masih tetap lestari. Hal ini sangat menarik karena disaat banyak kebiasaan lain berubah karena modernisasi dan globalisasi, moci tetap bertahan dan menjadi simbol kohesifitas masyarakat Tegal.

Perkembangan kota yang identik dengan warganya yang individualis, dengan masih adanya budaya moci membuat tindakan komunikasi dan interaksi antar personal warga bisa terjadi didalamnya, relasi yang harmonis, sejajar, dan dan saling menghargai.

Menurut Munawaroh S., dkk (2018) dalam bukunya “Tradisi Moci Minum Teh di Tegal Jawa Tengah”, nilai-nilai yang tersirat dalam tradisi moci antara lain: silaturahmi, musyawarah (berembug bareng), gotong royong, kebersamaan, persaudaraan, kontrol sosial, dan keterbukaan berpendapat filosofi dari perangkat dan proses moci mencipta keseimbangan hidup dan keadilan dari melalui kerja keras dan tempaan waktu dalam menapaki kehidupan harus saling berbagi, memberi pada pihak yang lebih kecil dan merata atau adil dan bersikap pada siapapun yang ada di bawahnya. Nilai-nilai filosofis yang terkandung pada tradisi moci inilah yang diambil dan dimanfaatkan sebagai nilai-nilai yang akan dikembangkan pada model pembelajaran.

Pembelajaran Moci Bareng Gurune adalah pembelajaran yang berbasis pada aktivitas peserta didik (student activity) dalam pembelajaran. Aktivitas peserta didik terbagi menjadi dua, yaitu aktivitas belajar di rumah dan aktivitas di sekolah.

Secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : pertama, guru memberikan materi kepada peserta didik satu pekan sebelum pembelajaran tatap muka di kelas. Materi tersebut diberikan melalui media daring yang dapat berupa slide, dokumen, gambar atau video.

Di dalam materi yang diberikan diberikan permasalahan untuk dipecahkan (problem solving). Dalam hal ini peserta didik di rumah mendapat materi dan tugas, baik individu maupun kelompok. Tahapan belajar di rumah dinamakan tahap belanja untuk moci bareng. Peserta didik mengumpulkan bahan-bahan dan merumuskan hasil pengumpulan bahan untuk digunakan saat diskusi di kelas.

Tahapan kedua terjadi sepekan kemudian di dalam kelas, peserta didik dengan dipimpin guru akan mendiskusikan hasil belajar dan mengerjakan solusi atas permasalahan yang telah dirumuskan. Tahapan ini dinamakan tahap moci bareng. Dalam tahapan ini peserta didik saling mengajukan argumen atas penyelesaian masalah. Tahap terakhir adalah tahap penyelarasan hasil diskusi, di mana guru memberikan simpulan atas pembahasan masalah (transfer knowledge).

Pembelajaran Moci Bareng Gurune sebagai strategi pembelajaran inovatif  lebih menekankan tentang memanfaatkan waktu di kelas agar pembelajaran lebih bermutu dan efektif. Ketika peserta didik masuk ke kelas, di dalam otak mereka ada banyak pengetahuan dan pertanyaan untuk dikeluarkan di meja diskusi.

Peserta didik datang ke sekolah dengan motivasi yang tinggi untuk mengetahui kebenaran dari hasil upaya pencarian penyelesaian masalah di rumah. Nah, dengan menjadikan peserta didik bukan gelas kosong, maka pembelajaran di kelas akan lebih hidup, lebih mudah untuk mengarahkan dan menaikkan level pengetahuan mereka.

Transfer knowledge akan lebih efektif dan martabat peserta didik akan dihargai karena mereka tidak dianggap sebagai benda mati yang siap untuk dibentuk apa saja. Strategi pembelajaran ini sangat memanusiakan peserta didik karena mereka akan duduk bersejajar dengan gurunya di dalam kelas untuk berdiskusi.

Moci Bareng Gurune pada dasarnya sarana untuk “Ndopok” dengan dilandasi silaturahmi, musyawarah, gotong royong, kebersamaan, persaudaraan, kontrol sosial, dan keterbukaan. Dan ketika mereka pulang, ada senyuman dan perasaan “bombong” setelah moci bareng gurune. Semoga bermanfaat.(*)

 

Sumber : Endro Suseno, S.Kom ( Guru SMK Negeri 2 Tegal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *