Nelayan Mandangin Protes Bantuan CSR HCML, Soroti Kualitas dan Dampak Lingkungan

SAMPANG, Persindonesia.com – HCML Husky-CNOOC Madura Limited, salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menjalankan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di Blok Madura Strait sejak belasan tahun lalu. Perusahaan migas ini rutin menyalurkan bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun warga Pulau Mandangin, Sampang, menilai kualitas bantuan selama ini terkesan asal-asalan dan tidak memenuhi kebutuhan nelayan.

Doni, calon Kepala Desa Pulau Mandangin, mengemukakan kritiknya terkait mutu bantuan tersebut. Ia menilai bantuan HCML jauh dari standar yang layak.

“kualitas bantuan dari HCML memang jauh dari kualitas SNI,” ujar Doni, Senin. Ia menjelaskan pengalamannya sebagai penjual alat nelayan membuatnya memahami barang yang sesuai kebutuhan warganya. Ia meminta perusahaan mempertimbangkan kualitas barang sebelum menyalurkannya. “Kami berharap dari pihak HCML melakukan observasi kebutuhan para nelayan dan mengutamakan kualitas jangan asal memberikan bantuan kepada para nelayan,” tambahnya.

Di Mandangin, HCML tercatat memberikan empat jenis bantuan untuk nelayan kecil, berupa lampu torpedo, tali, lampu senter, dan baling-baling perahu. Warga menyebut bantuan itu tidak sebanding dengan dampak kerusakan lingkungan laut yang mereka rasakan selama eksploitasi berlangsung.

Fadli, nelayan setempat, menyampaikan keresahannya. Ia menyebut aktivitas migas mengurangi hasil tangkap ikan. “kekayaan sumber alam Desa Pulau Mandangin di ambil tidak seimbang dengan kerusakan alam mengurangi pendapatan para nelayan,” katanya.

Warga sebelumnya menunjukkan antusiasme saat menerima bantuan baling-baling kuningan dari HCML. Namun mereka kecewa setelah menemukan kualitasnya buruk.

“Warga Desa Pulau Mandangin Sampang sebelumnya antusias dapat bantuan dari HCML berupa baling-baling kuningan ternyata kenak prank kualitasnya sangat jelek,” kata Bandrus.

Ia menjelaskan warga melakukan uji sederhana terhadap bahan baling-baling. “baling-baling yang tidak tidak ORI Kuningan, jika dites sama magnet nempel baling-balingnya,” ujar Fadli.

Para nelayan menilai kehadiran perusahaan migas belum memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat pesisir. “Kami merasa, kedatangan HCML tidak memberikan dampak positif bagi masyarakat kepulauan. Yang ada hanya akan menyengsarakan,” tambah Fadli.

Warga meminta perusahaan memperbaiki mutu bantuan dan mengutamakan pemulihan lingkungan laut. Mereka mendesak pemerintah dan pihak berwenang meninjau ulang aktivitas migas di wilayah Mandangin agar tidak semakin merugikan nelayan kecil.

(Sam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *