Nelayan Pengambengan Khawatir Tersingkir dari Megaproyek Pelabuhan

Persindonesia.com Jembrana – Para nelayan di Pengambengan, Kabupaten Jembrana, mulai cemas menghadapi rencana pengembangan Pelabuhan Perikanan Pengambengan yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Di tengah janji modernisasi dan investasi besar senilai Rp1,2 triliun, mereka khawatir pembangunan itu justru menggeser ruang hidup dan aktivitas ekonomi nelayan kecil yang telah puluhan tahun bergantung pada kawasan pelabuhan.

Keresahan itu mencuat dalam pertemuan antara Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Jembrana dengan pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Selasa (4/11). Para nelayan menyampaikan berbagai keluhan dan harapan agar suara mereka tidak diabaikan dalam proses pengembangan.

Salah satu pemilik kapal selerek, Sorijin, menekankan pentingnya keberpihakan terhadap nelayan lokal, terutama dalam penyediaan fasilitas perbaikan kapal (docking). Ia berharap fasilitas itu tidak digabung dengan kapal-kapal besar yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Pensiun Bukan Akhir Pengabdian, Pemkab Jembrana Dorong ASN Terus Berkarya

“Kami berharap kapal kecil seperti kami tetap memiliki tempat bersandar tersendiri dan tidak dicampur dengan kapal besar,” ujarnya.

Sorijin juga menyoroti kondisi jembatan dermaga yang sudah rusak dan tidak layak. Ia menilai perbaikan perlu dilakukan agar distribusi hasil tangkapan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) bisa berjalan lancar tanpa hambatan.

Selain infrastruktur yang terbatas, nelayan juga mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pasokan dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di kawasan pelabuhan dinilai tidak mencukupi, sehingga mereka terpaksa mencari ke luar area untuk mendapatkan kebutuhan melaut.

Diterjang Angin Kencang dan Hujan Lebat, Pohon Raksasa Tumbang Timpa Truk di Melaya

Ketua HNSI Jembrana, I Made Widanayasa, mengatakan pertemuan tersebut menjadi wadah penting bagi nelayan untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Ia berharap pembangunan pelabuhan internasional tidak hanya menonjolkan aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil.

“Yang kami inginkan sederhana, nelayan lokal jangan sampai tersingkir. Pengembangan boleh dilakukan, tapi kesejahteraan mereka juga harus meningkat,” ujarnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Kepala PPN Pengambengan, Kartono, memastikan semua masukan dari nelayan akan menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan pelabuhan. Ia menegaskan, proyek ini justru diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan mendukung program Penangkapan Ikan Terukur (PIT) yang berkelanjutan.

CATAT! Nusa Penida Festival 2025 Bakal Segera Di Gelar, Ini Jadwalnya

“Prinsipnya, pengembangan ini tidak untuk menggusur nelayan, tapi agar mereka bisa lebih sejahtera,” tegasnya.

Kartono menambahkan, pelabuhan baru akan dirancang sebagai pusat aktivitas perikanan tangkap modern dan terintegrasi, meliputi kegiatan praproduksi, produksi, pengolahan, hingga pemasaran hasil perikanan. Pengembangan kawasan dibagi menjadi tiga zona utama: Zona A untuk perkantoran dan pelayanan administrasi, Zona B bagi aktivitas nelayan kapal kecil dan bisnis pendukung, serta Zona C untuk industri perikanan dan dermaga kapal besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *