Pandemi Menyebabkan Ketidakstabilan Emosi

Oleh: Najwa Aulia

Persindonesia.com Jakarta, Pada masa pandemi ini tentunya menjadi tantangan sendiri bagi semua orang khususnya seorang perempuan terlebih yang sudah berumah tangga. tuntutan peran bertambah dengan adanya berbagai kebijakan yang ditetapkan pemerintah yang harus diterapkan oleh masyarakat termasuk dalam rumah tangga.

Misalnya anak-anak sebelumnya bisa beraktivitas dan belajar di sekolah, sekarang dengan belajar di rumah tentunya mau tidak mau akan banyak melibatkan peran orang tua khususnya ibu.
Selain itu, kebijakan untuk terus berada dirumah (stay at home, physical distancing) tentunya juga berdampak pada pemasukan keuangan keluarga sehingga ibu-ibu harus berpikir dengan seksama dan lebih bijak dalam membelanjakannya untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, belum lagi mengatasi kebosanan anak-anak, sebagian besar juga berpikir untuk menyiapkan cemilan sehari-hari, harus hati-hati saat keluar untuk berbelanja kebutuhan rumah, sesampainya dirumah harus hati-hati pula agar tidak membawa virus kedalam rumah, dan lain-lain.
Hal tersebut diatas jika tidak disikapi dengan baik tentunya akan menjadi stressor tersendiri bagi seorang perempuan salah satunya memunculkan emosi yang negatif.
Ketika emosi negatif dominan muncul pada diri seorang perempuan (ibu) tentunya akan membawa dampak pada semua anggota keluarga (misalnya mudah marah terhadap anak dan suami untuk hal kecil sekalipun). Tanpa disadari, hal tersebut dapat mengakibatkan suasana yang tidak nyaman dirumah dan menciptakan stresor baru untuk anggota keluarga lainnya bahkan dapat memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Selain itu, emosi negatif tentunya akan sangat berpotensi menurunkan imun seseorang yang artinya akan lebih mudah tertular virus. Jadi, alih-alih ingin menghindar malah justru memberikan peluang untuk dapat tertular dan mengalami KDRT.
Oleh karena itu, keterampilan dalam mengatur emosi sangat diperlukan untuk mengatasi emosi negatif di masa pandemi ini agar memunculkan suasana hati yang positif dan tetap nyaman berada di rumah. Mengelola emosi memang tidak mudah terutama jika berada di situasi yang tidak menyenangkan, namun ini bukanlah hal yang tidak mungkin untuk bisa dilakukan. Dengan mampu mengelola emosi dengan baik, maka akan ada banyak manfaat positif yang kita dapatkan.
Banyak dari kita tidak paham bahwa emosi yang kita rasakan sangat berpengaruh kepada diri sendiri seperti hal nya dalam bidang akademik,pekerjaan,dan sebagainya.
Jadi pengertian dari emosi yaitu pola reaksi yang kompleks melibatkan pengalaman,perilaku,dan fisiologis dari individu tersebut yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ataupun peristiwa penting yang terjadi atau dialami.
Pernah ada pertanyaan di pikiran saya “bagaimana cara emosi bekerja?”
Ternyata di dalam otak kita terdapat sistem limbik yaitu pusat pengaturan emosi,memori,dan perilaku seseorang.
Sistem limbik terdiri dari sejumlah bagian yang memiliki fungsi berbeda. Ada hipokampus,hipotalamus,dan amigdala. Saat mengalami peristiwa tertentu,sistem limbik akan mengirim sinyal mengarah ketiga bagian tersebut.
Sinyal tersebut diproses dan membuat kita bereaksi secara spontan. Akibatnya hal tersebut membuat perasaan menjadi takut,cemas atau pada saat kita dikagetkan oleh teman yang iseng. Bukan hanya perasaan,sistem limbik juga mempengaruhi respon dari fisiologis (ciri-ciri tubuh),seperti kulit pucat,jantung berdetak lebih cepat,dan keringat dingin.
Lalu selanjutnya emosi tidak hanya bahagia,sedih,marah melainkan beragam. Menurut Paul Ekman, manusia memiliki 6 (enam) jenis emosi dasar yang nantinya dibagi lagi menjadi emosi spesifik. Keenam emosi tersebut yaitu:

  1. Emosi Marah
  2. Emosi Jijik
  3. Emosi Takut
  4. Emosi Bahagia
  5. Emosi Sedih
  6. Emosi Terkejut
    Penjelasan mengenai emosi diatas yang pertama yaitu, emosi marah
    Jenis emosi tersebut yang paling berbahaya di antara emosi lainnya. Seringkali orang disekitar kita melarang kita untuk marah, padahal ini merupakan wujud emosi yang normal.
    Memendam amarah juga dapat meningkatkan hormon stress pada diri sendiri akibatnya berdampak pada gangguan kecemasan.
    Yang kedua yaitu, emosi jijik emosi ini biasanya disebabkan oleh penampilan,bau,atau tekstur tertentu. Respon pertama kita biasanya menghindar atau menjauh dari objek yang menjijikan. Hal ini juga berlaku ketika kita melihat perilaku buruk orang lain contoh kasus seperti pelecehan seksual,pornografi,dan perilaku jahat lainnya.
    Yang ketiga yaitu, emosi takut emosi ini merupakan salah satu emosi tidak menyenangkan mengapa demikian sebab pola pikir kita jadi ikut terganggu,emosi takut muncul ketika manusia mencoba mengantisipasi sesuatu yang mengancam fisik maupun fisiologisnya.
    Lalu emosi bahagia paling dicari dan dinikmati oleh semua orang. Emosi ini muncul Ketika kita mencapai atau mendapatkan sesuatu yang kita harapkan.
    Emosi sedih ketika mengalami hal tersebut manusia lebih cenderung akan menjadi pasif,mengurung diri,malas aktivitas,dan lainnya.
    Emosi terkejut,emosi ini berlangsung dalam durasi yang sangat singkat baik yang negatif maupun positif.
    Hal berikut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna untuk mengelola emosi agar tetap stabil :
    Berpikiran positif. Melatih diri untuk selalu optimis dan berpikiran bahwa segala masalah ada solusi. Dengan berpikir positif akan membantu emosi kita tetap stabil dan mampu melihat permasalahan dengan lebih jernih.
    Relaksasi sederhana (relaksasi pernafasan) untuk menenangkan diri, menyadari emosi, mengenali emosi, dan menerima emosi tersebut akan membuat kita lebih baik dan melihat hal-hal baik yang harus kita lakukan untuk memperbaiki diri.
    Cukup tidur. Tubuh melakukan perbaikan pada saat tidur sehingga tubuh yang lebih rileks dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih rasional.
    Tetap Aktif. Olahraga ringan, mengerjakan hobi dan mempertahankan jadwal aktivitas rutin. Jika harus beraktivitas di luar rumah maka tetap menjaga jarak dan memperhatikan protokol yang telah dianjurkan pemerintah.
    Hubungan dan dukungan sosial tetap terjalin dengan memanfaatkan teknologi. Ngobrol maupun berdiskusi dengan orang terdekat, berhubungan dan memiliki dukungan sosial juga dibutuhkan pada masa ini untuk memberikan perasaan yang positif.
    Batasi televisi dan media sosial. Dapatkan informasi dari sumber terpercaya dan akses televisi maupun media sosial lebih banyak dalam hal yang positif dan memberikan motivasi.
    Melakukan aktivitas bersama anggota keluarga misalnya berkebun, mengobrol bersama, beribadah, dll.
Img 20221204 Wa0045

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *