Panguring Sadhu
DENPASAR Persindonesia.com – Kehadiran penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Panguring Sadhu, menjadi warna tersendiri dalam Seminar Nasional yang digelar FORGAS Bali di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar, Jumat (3/4/2026).
Ketua Panguring Sadhu, IGN Jaman, menegaskan bahwa partisipasi pihaknya merupakan bentuk dukungan terhadap upaya bersama dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal Bali di tengah arus globalisasi dan pengaruh ideologi luar.
Menurutnya, ajaran dan praktik Panguring Sadhu yang berakar pada tradisi leluhur memiliki semangat yang sejalan dengan penguatan adat dan budaya Bali. Karena itu, sinergi antar elemen masyarakat, termasuk penganut kepercayaan, menjadi hal penting dalam menjaga keseimbangan spiritual dan sosial. “Kami hadir sebagai bagian dari masyarakat Bali yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga warisan leluhur agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai lokal,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia juga menekankan pentingnya ruang dialog dan saling pengertian antar kelompok kepercayaan dan adat, sehingga tercipta keharmonisan dalam keberagaman yang ada di Bali.
Seminar yang dibuka oleh Wayan Koster tersebut menjadi wadah konsolidasi berbagai elemen, mulai dari tokoh adat, akademisi, hingga organisasi kepercayaan. Diskusi yang berkembang tidak hanya menyoroti penguatan desa adat, tetapi juga pentingnya kolaborasi lintas komunitas dalam menghadapi tantangan ideologi transnasional.

Bagi Panguring Sadhu, momentum ini diharapkan mampu memperkuat posisi penganut kepercayaan dalam turut serta menjaga ketahanan budaya Bali, sekaligus mempertegas bahwa keberagaman keyakinan tetap dapat berjalan selaras dalam bingkai adat dan kearifan lokal.
Dengan keterlibatan berbagai unsur, termasuk komunitas kepercayaan, upaya menjaga Bali sebagai pusat kebudayaan dan spiritual diharapkan semakin kokoh dan berkelanjutan. Tim*






