Pelukis I Made Romi Sukadana resmi membuka pameran tunggalnya bertajuk “DIVERGENT MIND”

Eksplorasi Kontradiksi dan Kebebasan Estetik Romi di Santrian Gallery

DENPASAR Persindonesia.com – Santrian Gallery kembali menghadirkan ruang dialog bagi perkembangan seni rupa kontemporer Bali melalui pameran yang menempatkan seni sebagai pengalaman (art as experience). Dalam pameran ini, setiap goresan kuas tidak sekadar menjadi elemen visual, melainkan jejak interaksi intens antara subjek, medium, serta respons seniman terhadap realitas sosial yang melingkupinya.

 Pelukis I Made Romi Sukadana resmi membuka pameran tunggalnya bertajuk “DIVERGENT MIND” di Santrian Gallery, Sanur, pada Jumat (9/1/2026). Sebanyak 24 karya dipamerkan dalam ajang yang berlangsung hingga 28 Februari mendatang.

Kanvas-kanvas yang dipamerkan bertransformasi menjadi ruang uji coba sekaligus arena eksperimentasi personal. Proses kreatif Romi tampak tidak diarahkan pada pencarian keseragaman, tetapi justru pada keberanian merangkul ketegangan, perbedaan, dan kontradiksi sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik artistik.

Pengunjung diajak menggeser cara membaca karya seni: dari upaya mencari koherensi formal menuju pemahaman yang lebih terbuka atas perbedaan gaya dan pendekatan. Variasi visual yang hadir ditegaskan bukan sebagai kegagalan konseptual, melainkan sebagai pernyataan kemerdekaan berpikir. Dalam konteks ini, Romi memegang otoritas penuh atas setiap keputusan estetiknya, tanpa rasa takut pada ketidakpastian makna.

Pelukis I Made Romi Sukadana dalam keterangannya menyampaikan bahwa “DIVERGENT MIND” merupakan refleksi jujur atas dinamika batin dan cara berpikirnya sebagai seniman yang tidak ingin terjebak dalam satu pakem estetik.

“Bagi saya, perbedaan, kontradiksi, bahkan ketidaksinkronan visual adalah bagian alami dari proses berpikir. Saya tidak ingin memaksakan karya agar terlihat seragam atau ‘rapi’ secara konsep. Justru di situlah kejujuran proses kreatif itu hadir,” ungkap Romi.

Ia menambahkan, kebebasan dalam berkarya menjadi sikap penting untuk merespons realitas yang terus berubah, baik secara personal maupun sosial. “Setiap karya adalah ruang dialog—antara saya dengan kanvas, antara pengalaman personal dengan realitas di luar diri. Saya membiarkan lukisan tumbuh apa adanya, tanpa takut disalahpahami,” katanya.

Menurut Romi, pameran ini juga menjadi ajakan kepada publik untuk menikmati seni tanpa beban tafsir tunggal. “Saya berharap pengunjung tidak mencari makna yang pasti, tetapi merasakan pengalaman visual dan emosional yang berbeda-beda. Karena di situlah seni menjadi hidup,” pungkasnya.

Dukungan terhadap semangat keberagaman ekspresi ini disampaikan oleh Santrian Gallery melalui perwakilannya, Made Dolar Astawa. Ia menegaskan komitmen galeri untuk terus membuka ruang bagi seniman Nusantara dalam mengembangkan seni rupa secara inklusif dan berkelanjutan.

“Melalui pameran ini, kami berharap vitalitas kreatif seniman Bali terus tumbuh, bereksperimen, dan menghadirkan warna baru bagi publik luas,” ujarnya.

Pameran ini sekaligus menegaskan posisi Santrian Gallery sebagai ruang penting bagi pertemuan gagasan, kebebasan estetik, dan dinamika seni rupa kontemporer Bali.

(Gs Karang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *