Mengusung tema “Bali Mau Dibawa ke Mana?”, Mahasabha II menjadi forum strategis bagi para tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pembangunan Bali di masa depan. Dalam sambutannya, Mahendra Jaya menekankan bahwa budaya dan adat istiadat adalah fondasi utama yang harus terus dijaga.
“Bali memiliki keunikan tersendiri dengan kekayaan alam, budaya, dan adat istiadat yang kuat. Hal ini menjadi modal utama kita dalam menghadapi derasnya pengaruh global,” ujar Mahendra Jaya.
Ia juga menyampaikan pencapaian Bali dalam menekan angka kemiskinan ekstrem hingga 0,19% pada tahun 2023, jauh lebih rendah dibandingkan angka nasional. Selain itu, prevalensi stunting di Bali berhasil diturunkan menjadi 7,2%, membuktikan keberhasilan sinergi pemerintah dan masyarakat.
“Pemerintah terus berkomitmen mendukung pembangunan yang berkelanjutan dengan mengalokasikan anggaran Rp431,36 miliar pada 2025 untuk penanganan kemiskinan dan stunting,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Paiketan Krama Bali, I Wayan Jondra, menyebut Mahasabha II sebagai wadah penting untuk mengumpulkan ide-ide brilian demi masa depan Bali. Ia berharap kegiatan ini dapat memperkuat visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang mengintegrasikan alam, manusia, dan budaya.
“Mahasabha ini adalah momentum untuk membangun Bali secara bersama-sama dengan tetap menjunjung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal,” ungkap Jondra.

Mahasabha II Paiketan Krama Bali diharapkan menjadi tonggak penting bagi Bali untuk menjawab tantangan modernisasi dengan tetap menjaga identitas budayanya. Semangat kolaborasi dan keberlanjutan menjadi kunci bagi Bali untuk melangkah mantap menuju masa depan yang lebih sejahtera.*