Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Pasikian Yowana Provinsi Bali I Dewa Agung Lesmana, Ketua Pasikian Pecalang Provinsi Bali I Made Mudra, serta pengurus Pasikian Yowana dari kabupaten dan kota se-Bali. Dalam sambutannya, Kasubdit 3 Ditintelkam Polda Bali AKBP Muhamad Ali, SH., menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak mengingat Nyepi tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
“Sebanyak 1.500 Desa Adat di Bali akan melaksanakan rangkaian Nyepi sesuai dresta masing-masing. Karena bersamaan dengan Ramadhan, koordinasi dan kesepakatan bersama sangat diperlukan agar perayaan berjalan aman dan lancar,” ujar AKBP Muhamad Ali.
Mobilisasi besar-besaran saat Pangerupukan, dengan tingginya antusiasme pemuda mengarak ogoh-ogoh, berpotensi menimbulkan gesekan. Beberapa faktor pemicu kerawanan antara lain egoisme kelompok, konsumsi minuman keras, serta rivalitas lama antar kelompok pemuda. Faktor eksternal seperti provokasi dan sengketa tapal batas juga menjadi perhatian serius.
Ketua Pasikian Yowana, I Dewa Agung Lesmana, mengingatkan bahwa ogoh-ogoh adalah bagian dari sarana upacara pelebur Buta Kala dan harus dilaksanakan sesuai kaidah adat. “Solusi yang kami tawarkan adalah pelaksanaan pawai ogoh-ogoh tetap di wilayah Desa Adat masing-masing dengan sistem pengamanan bersinergi bersama Pecalang, Prajuru Desa Adat, Babinkamtibmas, dan Babinsa. Setiap ogoh-ogoh juga harus memiliki penanggung jawab yang jelas,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pasikian Pecalang Provinsi Bali I Made Mudra menekankan pentingnya mengantisipasi pengaruh alkohol dan provokasi di media sosial. “Pecalang sebagai garda terdepan keamanan di tingkat Desa siap bersinergi dengan Yowana. Mari jadikan pawai ogoh-ogoh sebagai hajatan adat yang tetap menjunjung tinggi ketertiban dan keamanan,” katanya.
Pasikian Yowana diharapkan dapat memaksimalkan sosialisasi untuk meredam potensi gangguan keamanan, seperti meminimalisir konsumsi miras, memperkuat komitmen menjaga kondusivitas, serta menghindari pawai di wilayah sengketa tapal batas.
Mengakhiri acara, AKBP Muhamad Ali mengimbau agar setiap gejolak segera dilaporkan untuk penanganan cepat dan tepat. “Mari bersinergi dengan Desa Adat dan pemerintah daerah, khususnya dalam pengaturan teknis seperti penggunaan sound system agar tidak memicu ketegangan,” pungkasnya.
Krg






