Persindonesia.com – Kuta Utara Badung Selasa 30 Maret 2010. Berbagai kasus pencurian benda suci pretima yang sempat kembali terjadi waktu lalu, semakin menciderai umat Hindu sedarma terutama para pengempon sekaligut umat sedarma penyungsung pura setempat, dan dirasakan penanggananya belum tuntas membuat Paiketan Pemangku se-Kab.Badung yang terangkum didalam PSN (Pinandita Sangraha Nusantara) angkat bicara menyikapi.

Jro Mangku Made Wardana Mangku Pura Batur Desa Bongkasa Abiansemal Badung yang juga pengurus PSN(Pinandita Sanggraha Nusantara),Paiketan Pemangku se-Kab.Badung, dalam fenomena kembali adanya pencurian-pencurian Pretima, dirinya merasa geram serta mengutuk keras ,menimang Pretima adalah benda yang sangat disucikan oleh umat. Menurutnya pura yang kehilangan Pretima merupakan sebuah musibah yang dalam bahasa Bali disebut “kepandung”, maka nilai kesakralan pura tersebut menjadi ternoda, dari
segi pengempon juga merasa berduka sekaligus menciderai hati semua umat sedarma.
Akibat dari ulah tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab tsb, Jro Mangku Wardana yang juga seorang Guru Ekonomi di SMA1 Kuta Utara ini menekankan : dengan banyaknya kejadian-kejadian yang belum terungkap mari kita menyikapi bersama-sama terkait dengan masalah-masalah tersebut yang belum terungkap tuntas, secara pribadi saya mengutuk keras dan agar kasus-kasus tersebut segera diselesaikan secara tuntas jika ada jaringan didalamnya , menimang karna hal ini bagaikan “bom umat”, jika fenomena ini terus menerus ada dan tidak dituntaskan efeknya akan sangat besar, kerugian bukan hanya material namun berdampak psikis, terkikisnya rasa aman dan nyaman di masyarakat, untuk itu marikita duduk bersama guna mencari solusi baik itu ; Pengempon pura, Klian Adat, Desa Adat, Prebekel, tokoh, aparat terkait dll, termasuk dilembaga umat dimana ada PHDI, juga Forum Kerukunan Umat Beragama(FKUB), duduk bersama sehingga kita tidak berjalan sendiri-sendiri, apa yang musti kita lakukan terkait kejadian-kejadian ini. Jangan samapai jika ada musibah kepada umat lain kita cepat-cepat sekali menanggapi ,bersteatment, sedangkan kita membiarkan adanya kejadian yang terjadi kepada umat kita sendiri bahkan seolah mengabaikan, itu merupakan suatu pencitraan dan mencari panggung popularitas, hendaknya kita menuntaskan permasalahan kita, terangnya.
Dirinya berharap agar seluruh kasus ini segera terungkap sehingga tidak menjadi momok yang tidak sedap bagi umat sedarma, semestinya pihak-pihak terkait lebih serius lagi dalam menanggani agar tidak menjadi pembiaran yang mengakibatkan terjadi kembali kasus secara berulang seperti yang terjadi di Desa Blahkiuh dan di Tingas, geramnya penuh kecewa.
Sementara Ketua PSN(Pinandita Sanggraha Nusantara),paiketan pemangku se Kab.Badung Jro Mangku Gede Dr.I Nyoman Sukendra ketika dikomfirmasi via Hp memà parkan pretima itu adalah arca yang merupakan bentuk atau simbol yang disucikan oleh umat Hindu, pretima atau arca tersebut terutama pada hari piodalan akan disucikan menjadi simbol yang terjaga kesuciannya guna linggih Ida Bhatara selama piodalan, atas dasar tersebut dipuja oleh umat sedarma/Hindu. Menimang pretima identik dengan niasa Ida Sanghyang Widhi ataukah para Istadewata di pura setempat automatis akan masuk ke psikologis dunia sukma yang paling dalam pada diri manusia.
Jika pretima sampai hilang itu akan menyentuh sukmasarira manusia Hindu,menyentuh taksunya menjadi leteh yang berdampak kepada keresahan, kekhawatiran, juga rasa malu.
Kekuatan inti yang dihasilkan oleh kesucian pretime yang mampu menggerakkan mobilitas umat sedarma dalam melaksanakan ritual yang dijamin keamannya oleh negara. Oleh karenanya kehilangan-kehilangan seperti itu cendrung terkatagori dengan “teror”, seyogyanya negara dalam menanggani hal ini hendaknya sejajar dengan penangganan teror, ungkapnya dengan nada keras.
Sebagai Ketua PSN dirinya mengharap agar segenap umat Hindu selalu waspada dan cermat menyikapi keaman pura dimana pretima itu melinggih, juga mewaspadai dimana kriminalitas dewasa ini yang semakin canggih. Kepada aparat terkait diharapkan untuk memetakan tempat-tempat kejadian kehilangan pretima, apa penyebabnya dan juga lebih aktif membantu sistem keamanan pura dengan benda-benda sucinya tersebut, sehingga umat Hindu akan merasa lebih terjamin keamanan dan kenyamanannya dalam melaksanakan ritual keagamaan, ungkapnya mengakhiri.
Red.






