Saput, Seniman Muda Asal Jampang Tumbuh Secara Otodidak

Tegal – Kecamatan Margasari merupakan salah satu  wilayah kecamatan di Kabupaten Tegal Jawa Tengah dan berada di bagian selatan dari Kota Slawi, kota yang menjadi ikon Kabupaten Tegal, selain memiliki potensi alam dengan perkebunan pohon jati, perkembangan Kecamatan Margasari sangat pesat, hal ini terbukti banyaknya industri yang mulai berkembang di wilayah tersebut

Namun dibalik itu semua, wilayah ini juga menyimpan potensi kreatifitas sumber daya manusia yang sangat luar biasa, bahkan sederet Seniman hingga tokoh papan atas tercatat berasal dari wilayah Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal

Adi Saputro (25) alias “Saput” putra ke Tujuh dari 10 bersaudara  pasangan Alm Rasdi dan Ibu Darti , warga Desa Pakulaut Pedukuhan Jampang Rt 05 Rw 03 Kecamatan Margasari Kabupaten Tegal, sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, Ia memiliki keahlian seni seperti melukis maupun membuat patung atau Replika, sehingga Ia kerap mendapat panggilan untuk melukis Mural guna entertainmen toko maupun cafe yang kesemuanya muncul secara otodidak

” Jarang saya mengambar sket atau apapun , jelasnya setiap saya akan memulai membuat karya, Ya.. hanya membayangkan dan melihat sepintas saja melalui jejaring internet, pokoknya yang muncul sesuai insting saja” ujarnya saat ditemui , Minggu (25/7) dikediamanya  Pedukuhan Jampang

Adi alias Saput, memang berbeda dengan remaja sebayanya, komitmen fokus  dan ketenangan jiwa menjadi kekuatan dirinya dalam berkarya, walaupun terkadang ada yang mengaitkan dengan hal mistis dalam setiap proses pembuatan hasil karyanya, uniknya lagi tak sebatang pun rokok menyala di bibirnya padahal hampir kita ketahui banyak pelukis justru sebagai perokok berat.

Seperti saat proses membuat patung atau replika sang raja rimba yang rencananya akan Ia bandrol dengan harga Jutaan rupiah, pasalnya pada tahun 2017 Ia pernah mengerjakan replika binatang yang sama kala berada di Jakarta dan karyanya mampu terjual dengan harga Rp. 25 Juta, namun sayangnya modal awal pembuatan bukan miliknya, alhasil Adi (25) hanya pasrah menerima upah pengerjaanya saja.

Menyikapi hal tersebut saat berbincang, Adi Saputra menjelaskan, jika keterbatasan modal merupakan hal utama, misalnya dalam membuat satu replika biaya yang di butuhkan cukup banyak , mirisnya lagi para seniman di desa seperti kami sulit mengembangkan kreativitas karena belum adanya dukungan dari Pemerintah, pungkasnya

Kendati demikian Adi (Saput) tetap bangkit dengan karya dan inovasinya secara Otodidak, bahkan hasil karyanya menurutnya  sebagai  pengingat  bahwa manusia tidak boleh melupakan alam semesta karena dalam berkehidupan semua akan saling kait satu dengan yang lainnya untuk mengapai harapan (Red/Cah)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *