Persindonesia.Com,Bangli – Pengerjaan proyek saluran irigasi di Subak Tampuagan, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli dikeluhkan masyarakat. Pasalnya, selain pengerjaannya asal-asalan dan amburadul. Yang bikin kesal krama subak, lantaran pengerjaan proyek senilai miliran tersebut, tidak sesuai usulan masyarakat sehingga mubazir. Hal ini diungkapkan Ketua DPRD Bangli, I Ketut Suastika saat ditemui pasca sidak, Minggu (10/5/2026).
Lanjut Suastika, sidak ke proyek saluran irigasi Subak Tampuagan, dilakukan pada Sabtu (9/5) pagi, karena banyaknya pengaduan dan keluhan yang disampaikan para tokoh dan krama subak setempat. Setelah kita lihat secara langsung, apa yang dikeluhkan para tokoh masyarakat dan krama subak benar adanya, yang mana apa yang dikerjakan, tidak sesuai dengan apa yang diusulkan masyarakat.
Baca Juga : Pimpinan dan Anggota DPRD Mengucapakan Selamat HUT Kota Bangli ke-822
“Usulan masyarakat sesuai hasil paruman dan kebutuhannya, agar pengerjaan proyek di hulu sungai. Namun dalam pengerjaanya justru dipecah dihilir dibangun saluran irigasinya. Bahkan, ada yang paling mubazir. Yakni, ada pengerjaan menyender dilahan pribadi milik warga yang fungsinya tidak jelas, dengan kualitas pengerjaan yang juga asal-asalan”, bebernya.
Sesuai informasi yang dihimpun, proyek saluran irigasi di Subak Tampuagan merupakan bagian dari proyek jaringan iirigasi di Kabupaten Bangli yang dikucurkan pemerintah pusat tahun 2025 dengan anggaran lebih dari Rp22,3 miliar melalui mekanisme Dana Inpres. Anggaran ini dialokasikan untuk perbaikan saluran induk sebesar Rp20 miliar dan saluran tersier Rp2,3 miliar di delapan Daerah Irigasi (DI) dengan lokasi, Bangkiang Sidem, Tunggak Alas, Manuk, Pembungan, Aya, Bangbang Let, dan Tampuagan Kaja. Dan untuk anggaran kegiatan fisik ini, diduga dikelola oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida.
Hanya saja, dari hasil sidak Ketua DPRD Bangli, terungkap pengerjaan proyek tersebut justru sampai ini belum selesai dilakukan. Kita lihat langsung, pengerjaan di bagian hulu saluran irigasi, sampai saat ini justru masih dalam pengerjaan. Padahal waktunya kan sudah lama. Karena anggarannya tahun 2025. Dari sisi kualitas juga benar-benar asal-asalan.
“Itu tidak dibeton, tapi pasir saja yang terlihat dipadatkan. Saya kira pembangunan yang dikerjakan itu, akan jadi mubazir, tidak ada manfaatnya alias mubazir,” tegas Suastika.
Yang lebih bikin kesal masyarakat, aliran irigasi yang sudah bagus dibongkar dengan adanya proyek ini. Tapi, pengerjaanya tidak diselesaikan. Justru hanya setengah diperbaiki dengan pengerjaan asal-asalnya dan dampaknya air irigasi tidak bisa mengalir dengan lancar,” tegasnya. Yang mana, pihak subak sejatinya minta terwongan yang masih berupa tanah diperbaiki dengan betonisasi.
Baca Juga : Bangkitkan Kearifan Lokal, HUT Bangli ke-822 Semarak Tanpa Bebani APBD
Atas berbagai keluhan tersebut, mandor proyek yang kebetulan ditemui Suastika dilokasi saat sidak, mengaku tidak tahu menahu. Pihaknya mengaku hanya bertugas mengerjakan saja. Namun, yang bersangkutan sempat berkilah, bahwa pengerjaan yang dilakukan karena masih dalam proses masa pemeliharaan yang notabene merupakan kegiatan fisik tahun 2025.
Tindak lanjut dari itu, Suastika menyarankan kepada pihak yang menangani pengelolaan proyek tersebut melakukan perbaikan. Untuk asas manfaatnya, minimal ada pembangunan lanjutan agar pembangunan ini bisa jadi bermanfaat. “Sebab, kalau tidak ada kelanjutan pembangunannya, ini sama sekali tidak bisa dimanfaatkan,” tegas Suastika.(*)






