Persindonesia.com Jembrana – Isu merebaknya penyakit kulit berbenjol atau Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyebabkan sejumlah wilayah di Kabupaten Jembrana ditetapkan sebagai zona pembatasan pergerakan ternak berdampak besar terhadap sektor peternakan sapi. Harga sapi di Jembrana dilaporkan turun drastis hingga 50 persen dari harga normal. Bahkan, sapi asal Jembrana kini sulit dijual ke daerah lain karena stigma wilayah “lockdown”.
Perbekel Desa Manistutu, I Komang Budiana, yang wilayahnya termasuk dalam zona pembatasan, saat dikonfirmasi mengatakan, mengatakan sejumlah sapi milik warga terpaksa dipotong setelah dinyatakan positif LSD.
“Beberapa sapi warga sudah dipotong karena positif LSD. Kemarin para peternak bersama bapak Bupati dan pihak kementerian juga sempat berdiskusi terkait mekanisme ganti rugi agar harga sapi yang dipotong tidak jatuh terlalu jauh. Petani sebenarnya mau sapinya dipotong, asalkan harganya sesuai,” ujarnya,Senin (19/1).
Angin Puting Beliung Terjang Belasan Rumah Warga di Penyaringan
Ia menyebut, sebelum isu LSD merebak, harga sapi di Jembrana memang sudah cenderung lesu. Namun setelah adanya pemberlakuan pembatasan wilayah, harga ternak semakin terpuruk dan sulit dipasarkan.
“Dulu anak sapi jantan umur sekitar empat bulan bisa dijual Rp7–8 juta dan sangat mudah laku. Sekarang ditawar Rp3 juta pun belum tentu ada yang beli. Yang masih relatif stabil hanya harga sapi betina,” jelasnya.
Budiana menegaskan, LSD sebenarnya bukan penyakit baru dan dapat diobati. Namun dampak terbesar justru dirasakan dari sisi ekonomi peternak. “Peternak resah bukan karena penyakitnya, tetapi karena harga ternaknya jatuh dan tidak laku,” imbuhnya.
Pohon Angsana Tumbang di Tegalcangkring, Timpa Pikap dan Tembok Sekolah
Keluhan serupa disampaikan pengusaha ternak sapi asal Jembrana, I Gede Gunawantika. Ia mengatakan status pembatasan wilayah akibat LSD membuat sapi Jembrana ditolak di berbagai pasar ternak, termasuk Pasar Beringkit.
“Begitu disebut Jembrana lockdown, sapi langsung ditolak. Padahal penyakit ini tidak seseram itu, bisa diobati. Berbeda dengan PMK. Tapi stigma lockdown ini benar-benar memukul peternak,” katanya.
Ia mencontohkan kerugian yang dialami pengusaha pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH). Dari lima ekor sapi yang dipotong, pihaknya hanya memperoleh hasil penjualan daging sekitar Rp15 juta. Padahal biaya pembelian sapi mencapai Rp40 juta.
Heboh Mayat Tergelatak Bersimbah Darah Dengan Posisi Terlentang di Depan Warkop Cooffe Black
“Artinya kami rugi sekitar Rp25 juta. Daging memang laku, tapi harga beli sapi masih tinggi sementara nilai jual daging tidak menutup modal,” ungkapnya.
Gunawantika berharap pemerintah tidak menggunakan istilah “lockdown” secara penuh, melainkan mengikuti Surat Edaran Gubernur Bali yang mengizinkan pengiriman ternak antarwilayah dengan syarat uji laboratorium LSD negatif.
“Kami berharap pengiriman ternak tetap diizinkan dengan syarat uji lab negatif, karantina, serta penyemprotan desinfektan. Pemerintah juga perlu mempercepat vaksinasi dan bantuan desinfektan untuk membasmi lalat penyebar penyakit,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebelum isu LSD merebak, harga sapi jantan usia enam bulan bisa mencapai Rp7 juta per ekor. Kini harganya hanya berkisar Rp3–4 juta dan sebagian besar tidak laku.
“Bahasa lockdown ini benar-benar membunuh peternak dan juga para pencari rumput. Padahal kalau prosedur kesehatan ternak dijalankan, pengiriman masih bisa dilakukan secara legal,” pungkasnya. Ts






