Sumber Daya Laut Bali Melimpah, Tahun 2022 Bali Ekspor Produk Perikanan Mencapai 26.468 Ton
Denpasar – Gubernur Bali, Wayan Koster yang memasukan Sektor Kelautan dan
Perikanan dalam transformasi perekonomian Bali melalui Konsep
Ekonomi Kerthi Bali diapresiasi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI,
Bapak Sakti Wahyu Trenggono, Plt. Dirjen Perikanan, Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Dr. Agus Suherman, Anggota Konsorsium Tuna
Indonesia, Yayasan IPNLF Indonesia, Yayasan Masyarakat dan
Perikanan Indonesia, dan Resonance, Para Narasumber, Pakar/Experts,
Peneliti, dan Pengusaha Perikanan Tuna baik dari dalam maupun luar
negeri di acara Konferensi Tuna Indonesia dan Forum Bisnis Tuna Pesisir
Internasional ke-7 pada, Rabu (Buda Kliwon, Sinta), 24 Mei 2023 di
Legian, Kuta, Badung.
Gubernur Bali dalam sambutannya mengucapkan selamat datang di
Bali kepada seluruh peserta Konferensi dan Forum Bisnis Tuna ke-7.
Semoga aura dan vibrasi Bali memberikan inspirasi positif, sehingga
dapat menghasilkan komitmen yang kuat di antara Pemerintah dan
pemangku kepentingan perikanan tuna, serta strategi yang efektif dalam
mencapai keberlanjutan sumber daya tuna dan pemanfaatannya.
Saya sangat berbangga dan berterima kasih kepada Bapak Menteri
Kelautan dan Perikanan RI yang telah memilih Bali sebagai venue
penyelenggaraan Konferensi Tuna Indonesia dan Forum Bisnis Tuna
Pesisir Internasional ke-7 ini. Saya memandang bahwa Konferensi Tuna
Indonesia dan Forum Bisnis Tuna ke-7 yang melibatkan Pemerintah,
para pakar, peneliti, dan pelaku industri tuna dari hulu sampai hilir
merupakan kesempatan yang baik untuk membahas tindakan-tindakan
yang tepat yang dibutuhkan bagi keberlanjutan Perikanan Tuna di Indonesia dan di dunia dengan berbasiskan pada isu-isu terkini dan
scientific evidence.
Provinsi Bali, walaupun dari segi luas wilayah tergolong kecil, akan
tetapi memiliki potensi kelautan dan perikanan serta kedudukan yang
strategis bagi pembangunan kelautan dan perikanan nasional, termasuk
dalam hal Perikanan Tuna. Sebagaimana diketahui, posisi Bali sangat
strategis dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan di Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia dan perairan laut lepas. Bali berada di titik
tengah Daerah Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 573 (Samudera Hindia sebelah
Selatan Jawa hingga sebelah Selatan Nusa Tenggara), serta berdekatan
dengan WPPNRI 718 (Laut Arafura) dan perairan laut lepas di Samudera
Hindia. Dengan kedudukan ini, Bali berkontribusi cukup signifikan bagi
perikanan tangkap Indonesia, khususnya perikanan Tuna-TongkolCakalang (TTC).
Pada saat ini pusat bisnis Perikanan Tuna di Bali berpangkalan di
Pelabuhan Benoa Bali. Jumlah armada penangkapan ikan yang
berpangkalan di Pelabuhan Benoa berjumlah 762 unit kapal. Produksi
Tuna, Tongkol, Cakalang di Bali pada tahun 2021 mencapai 51.897,1
ton. Di sektor hilir, industri perikanan di Bali didukung oleh 75 Unit
Pengolahan Ikan (UPI) Skala Menengah-Besar yang produknya sebagian
besar berorientasi ekspor. Ekspor produk perikanan di Bali tahun 2021
mencapai 26.825 ton dengan nilai US$ 131,25 juta. Sedangkan volume
ekspor tahun 2022 mencapai lebih dari 26.468 ton dengan nilai US$
136,80 juta. Share volume ekspor tuna (segar dan beku) rata-rata 35%
dan dari segi nilai rata-rata 45% dari total ekspor produk perikanan Bali.
Ekspor produk perikanan Bali sangat didukung oleh keberadaan Bandar
Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang memiliki rute penerbangan
langsung ke berbagai negara.
Kami di Bali sedang melakukan transformasi perekonomian, dengan
pengalaman hampir 3 tahun Bali dan negara – negara lain dilanda
Pandemi COVID – 19, dimana sektor pariwisata Bali yang berkontribusi
lebih dari 54 % terhadap PDRB Provinsi Bali itu telah mengalami keterpurukan luar biasa. Sehingga, ketika Pandemi COVID – 19
berlangsung pertumbuhan perekonomian di Bali pada tahun 2020
mengalami kontraksi yaitu minus 9,31 %, kemudian di tahun 2021
mengalami sedikit perbaikan, namun masih mengalami kontraksi minus
2,47 %, pada tahun 2022 mengalami kemajuan dan perekonomian Bali
tumbuh 1,46 %, hingga pada tahun 2023 ini perekonomian Bali sudah
lebih maju dan melebihi dari target yaitu di triwulan I mencapai 6,04
persen, dan Kami perkirakan kedepan ini akan terus meningkat sejalan
dengan upaya Kami di dalam memulihkan pariwisata Bali.
Dalam rangka transformasi perekonomian Bali, agar Bali tidak lagi
didominasi oleh satu sektor pariwisata, karena pariwisata sangat sensitif,
maka Kami telah merancang transformasi perekonomian Bali melalui
Konsep Ekonomi Kerthi Bali yang lebih bertumpu pada kekuatan dan
potensi yang ada di alam Bali, salah satunya yaitu Sektor Pertanian
dengan Sistem Pertanian Organik hingga Sektor Kelautan dan Perikanan.
Khusus untuk Sektor Kelautan dan Perikanan, Kami telah memiliki
Peta Kekayaan Kelautan di Bali. ”Bali ini kecil – kecil, ternyata memiliki
kekayaan perikanan yang luar biasa, ada perikanan tangkap, ikan hias,
dan berbagai sumber daya kelautan yang luar biasa, namun selama ini
belum digali dan diberdayakan secara optimal,” jelas Gubernur Bali
jebolan ITB ini.
Mengakhiri sambutannya, Gubernur Bali, Wayan Koster
menyampaikan melalui Konferensi dan Forum Bisnis Tuna ini, Saya
berharap sekiranya industri perikanan tuna ke depannya semakin besar
kontribusinya terhadap upaya pelestarian sumber daya ikan, wilayah
pesisir dan kesehatan laut, serta mendukung peningkatan kesejahteraan
nelayan skala kecil.
Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono yang
membuka acara The 1st Indonesia Tuna Conference (ITC-1) & The 7th
International Coastal Tuna Business Forum (ICBTF-7) yang berlangsung
dari tanggal 24-25 Mei 2023 menyampaikan bahwa wilayah perairan
Indonesia merupakan tempat wilayah penangkapan tuna, baik di perairan kepulauan, perairan teritorial, maupun di Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia, dimana sebagian besar penangkapan tuna oleh
pelaku usaha industri beroperasi di wilayah perairan Indonesia di
Samudera Hindia, Laut Banda dan Samudera Pasifik.
Indonesia merupakan negara produsen ikan tuna, cakalang, dan
tongkol terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 15 persen. Pada
tahun 2021 produksi tuna dan cakalang Indonesia mencapai 791.000
ton dengan nilai sekitar 22 triliun rupiah. Adapun yang diekspor
sejumlah 174.764 ton senilai 732,9 juta USD atau lebih dari 10,6 triliun
rupiah, sebagian besar di ekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Thailand,
Arab Saudi, Uni Eropa, Australia, Viet Nam, Inggris dan Filipina.
Sebagai bagian dari upaya melindungi kepentingan perikanan tuna
nasional di forum global, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam
pengelolaan tuna nasional mengacu pada ketentuan Organisasi
Pengelolaan Perikanan Regional, yaitu Indian Ocean Tuna Commission;
Western and Central Pacific Fisheries Commission; dan Conservation of
the Southern Bluefin Tuna.
Kementerian Kelautan dan Perikanan juga telah menerbitkan
Keputusan Menteri Nomor 121 tahun 2021 tentang Rencana
Pengelolaan Perikanan Tuna, Cakalang dan Tongkol yang menjadi
payung hukum kemudahan berusaha dan persyaratan pengelolaan tuna
cakalang tongkol di ZEE dan laut lepas, dukungan terhadap
pemberantasan IUU fishing pada pengelolaan tuna, strategi adaptasi
pengurangan emisi karbon serta penyusunan harvest strategy tuna dan
cakalang di perairan kepulauan.
Indonesia telah menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya
kelautan dan perikanan berbasis ekonomi biru yang mencakup,
emperluas kawasan Konservasi laut, penangkapan ikan terukur berbasis
kuota, pengembangan budidaya ikan di kawasan laut, pesisir, dan darat
secara berkelanjutan, pengawasan dan Pengendalian wilayah pesisir dan
pulau – pulau kecil, serta pembersihan sampah laut melalui partisipasi
nelayan.
Harvest strategy pengelolaan tuna yang telah disusun sejalan
dengan kebijakan ekonomi biru khususnya penangkapan ikan terukur,
karena dalam strategi tersebut diatur penerapan perikanan berbasis
kuota penangkapan ikan, penatakelolaan rumpon, penerapan
pengurangan hasil tangkapan tuna dan cakalang dan penerapan
penutupan sebagian wilayah dan waktu penangkapan tuna sirip kuning.
“Saya berharap agar penetapan target dan limit reference point dalam
harvest strategy yang menjadi acuan dalam penentuan kuota
pemanfaatan sumber daya ikan tuna ini dapat menjadi instrumen yang
mengawal keberlanjutan sumber daya tuna dengan tetap
mempertimbangkan aspek usaha dan ekonominya,” kata Menteri Sakti
Wahyu Trenggono.
Sebagai penutup dan, Menteri Perikanan dan Kelautan berharap
seluruh pemangku kepentingan secara sungguh-sungguh melaksanakan
Harvest Strategy untuk kelestarian sumber daya ikan tuna, cakalang dan
tongkol sehingga dapat menguatkan daya saing produknya di pasar
global. “Terima kasih atas dukungan semua pihak, mulai dari akademisi,
para pakar, para pelaku usaha, NGO, international partners, dan
Pemerintah Daerah dalam pengelolaan perikanan tuna yang
berkelanjutan”, pungkasnya seraya mengapresiasi program Gubernur
Bali, Wayan Koster khususnya dibidang Kelautan dan Perikanan sembari
mendoakan kepemimpinan Wayan Koster agar berlanjut di
periode kedua sebagai Gubernur Bali.
Tim






