6 Kali Kasus Kapal Tenggelam di Selat Bali, Bupati Kembang Dorong Evaluasi Penyeberangan

Persindonesia.com Jembrana – Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya yang menewaskan puluhan penumpang, dengan sebagian besar korban hingga kini belum ditemukan, menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Tragedi ini menambah panjang daftar insiden kapal tenggelam di Selat Bali, yang sejak tahun 2007 hingga 2025 tercatat sudah enam kali terjadi dalam rentang waktu selisih 3 tahun.

Menyikapi hal ini, disela-sela menyerahkan penghargaan kepada nelayan Banjar Pebuahan yang ikut mengevakuasi korban kapal tenggelam, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan dengan tegas menyatakan akan melaporkan kejadian tersebut kepada Gubernur Bali, yang kemudian akan diteruskan ke Kementerian Perhubungan. Bupati Kembang juga berjanji akan berkoordinasi erat dengan pihak ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan) untuk menindaklanjuti insiden ini.

Bupati Kembang Hartawan menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan kapal-kapal penyeberangan rute Ketapang-Gilimanuk. “Terkait kelayakan kapal-kapal penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, nanti kami akan bicara dalam rapat terbatas dengan pimpinan daerah. Dalam hal ini saya akan berkoordinasi dengan Bapak Gubernur agar beliau berkoordinasi dengan pihak perhubungan,” ujarnya, Selasa (8/7/2025).

Dua Jenazah Kembali Ditemukan di Banyuwangi, Bangkai KMP Tunu Pratama Jaya Terdeteksi

Ia menambahkan, “Tentu dengan ASDP kami akan memberikan masukan bagaimana kelayakan kapal. Kemudian, terkait penumpang yang manifestnya tidak tercatat, ini juga mungkin menjadi perhatian kita. Itu akan saya sampaikan.” Permasalahan data penumpang yang tidak tercatat dengan baik menjadi salah satu fokus utama yang akan disampaikan oleh Bupati.

Selain fokus pada insiden KMP Tunu Pratama Jaya, Bupati Kembang juga mengungkapkan adanya rencana jangka panjang terkait peningkatan infrastruktur penyeberangan. Ia menyebut bahwa ASDP sedang menyusun rencana besar untuk mengantisipasi dampak pembangunan tol yang akan terhubung hingga Banyuwangi.

“Untuk penumpang barang dan orang, saya sempat berkomunikasi dengan ASDP. Mereka sedang menyusun rencana-rencana besar ke depan. Ketika tol telah sampai di Banyuwangi dari Jakarta, pasti akan ada pengaruh terhadap kendaraan yang akan datang ke Bali. Masyarakat akan memilih melakukan perjalanan lewat darat karena lebih cepat. Kalau tidak dipersiapkan ini, Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk bisa krodit. Ini sedang dipersiapkan,” jelasnya.

Satu Lagi Jenazah Teridentifikasi, Namun Tak Masuk Daftar Penumpang KMP Tunu Pratama Jaya

Lebih lanjut, pemerintah juga sedang menyiapkan kapal penyeberangan cepat khusus untuk pariwisata. Proyek ini tengah didesain dan dirancang oleh Kementerian Pariwisata. “Saya juga telah bertemu dengan Wakil Menteri Pariwisata dan juga bagian pemasaran telah mematangkan apa yang menjadi rencana 3B, yaitu Banyuwangi, Bali Utara, dan Bali Barat,” kata Bupati.

Rencananya, akan ada kapal yang beroperasi dari Pantai Boom, Banyuwangi, menuju Bali Utara dan Bali Barat. “Kita juga disuruh mempersiapkan objek-objek pariwisata, paket dari program tersebut. Itu sedang dimatangkan. Tapi ini untuk pariwisata,” pungkas Bupati Kembang Hartawan, menegaskan bahwa pengembangan ini terpisah dari upaya peningkatan keselamatan penyeberangan reguler. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *