Persindonesia.com Tegal – Sederet kegiatan budaya bakal ditampilkan dalam gelaran Suro Fest#3 di Desa Cempaka Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal mulai 5 – 7 Agustus 2022 hingga jelang malam. Bahkan bukan hanya tradisi budaya melainkan UMKM masyarakat sekitar yang populer dengan jajanan tradisional pun turut dalam Suro Fest #3 yang berlokasi di Pasar Slumpring.
Sebelumnya Bupati Tegal Hj Umi Azizah Selasa 2 Agustus 2022 memimpin langsung tradisi Ruwat Bumi Guci yang diadakan di Obyek Wisata Guci salah satu obyek wisata favorit di Tegal. Tradisi Ruwat Bumi Guci tersebut kerap dihadirkan setiap tahunnya guna melestarikan budaya, terlebih saat memasuki bulan Suro atau awal Muharram.
Namun di tahun 2022 ini Pemerintah Kabupaten Tegal tidak hanya menggelar Ruwat Bumi Guci tetapi juga sederet kegiatan dalam memperingati Bulan Suro. Diantaranya dengan Suro Festival atau Suro Fest #3 yang dipusatkan di lokasi Wisata Desa Pasar Slumpring Desa Cempaka Kecamatan Bumijawa Tegal.
Selain Haul Sesepuh Desa, Tari Topeng Endel dan Festival Kuliner, Suro Fest #3 juga akan menggelar tarian seni tradisional yakni Tari Sintren Semedo. Semedo merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Di desa ini telah dibangun museum Situs Purba Kala Semedo.
Tari Sintren merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari pesisir utara pantai Jawa tengah dan Jawa barat yang dibawakan dengan gemulai oleh para penari. Selain gerak tarinya, tarian ini juga terkenal dengan unsur mistis di dalamnya karena adanya ritual khusus untuk pemangilan roh atau dewa.
Saat dikonfirmasi awak media Bupati Tegal Hj Umi Azizah mengatakan, ruat bumi guci merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur. “Para pendahulu kita yang telah mewariskan kekayaan alam kepada anak cucunya, berupa hamparan lahan pertanian yang subur udara dan air yang tidak tercemar hutan yang terjaga kelestariannya,” ucapnya. Kamis (4/8/2022)
Sebagai generasi penerusnya, lanjut Umi, tentu harus bisa melanjutkan mengolah warisan ini untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. dengan tetap memperhatikan keseimbangan alam. “Kegiatan ruwat bumi ini kita merasakan guyub rukun warga guci dan sekitarnya, dan ini yang harus lestarikan dan setelah ruatan bumi ini. Selalu berharap obyek wisata selalu baik dan usahanya selalu lancar dan semakin berkah dan berkah dan berkah,” pungkasnya. (Karono)






