Persindonesia.com Jembrana – Tidak hanya korban yang merupakan sopir truk yang dari Lingkungan Menega, Kelurahan Dauhwaru, Jembrana yang sampai saat ini belum ditemukan, salah satu korban yang merupakan sopir truk bernama Dewa Gede Adnyana Putra asal Tojan, Blahbatuh, Gianyar juga sampai saat ini belum ditemukan yang merupakan korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali
Dewa Gede Adnyana Putra diketahui sudah lama bekerja sebagai sopir truk lintas Bali-Jawa. Ia biasa mengangkut pakan ternak dari Jawa menuju Tohpati, Denpasar. Kabar hilangnya Adnyana pertama kali diterima pihak keluarga dari informasi sesama rekan sopir, yang menyebut namanya masuk dalam daftar penumpang kapal nahas tersebut.
Saat dikonfirmasi, menantu korban, Si Luh Sri Devi Mariani, didampingi istri korban, Dayu Made Silawati, mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan ayah mertuanya pada Rabu (2/7) malam. Dalam percakapan itu, Adnyana sempat menyampaikan bahwa ia sudah berada di atas kapal dan meminta untuk dibangunkan pukul 04.00 wita guna melanjutkan perjalanan ke rumah.
Cuaca Seketika Berubah-ubah, Hambatan Utama Pencarian Korban KMP Tunu Pratama Jaya
“Saya menyarankan agar kalau ajik [sapaan ayah mertua] sudah sampai rumah pagi harinya, kita bisa sembahyang bersama. Ajik jawab bisa, katanya sampai rumah pagi. Tapi setelah itu tidak ada kabar lagi. HP-nya tidak bisa dihubungi, bahkan GPS kendaraan pun tidak terdeteksi,” ujarnya, Jumat (4/7).
Ia menambahkan, awalnya sempat tidak percaya bahwa ayah mertuanya menjadi salah satu korban. Namun, setelah mencocokkan nama dalam daftar manifest dan melakukan pengecekan langsung ke lokasi, pihak keluarga memastikan bahwa Adnyana memang berada di atas kapal tersebut saat musibah terjadi.
Sementara itu, Gede Tirta (60), rekan kerja korban yang juga seorang sopir truk asal Desa Tuwed, Melaya, Jembrana, mengaku sempat menghubungi Adnyana sekitar satu jam sebelum insiden terjadi.
Kasus Sabung Ayam Berdarah di Kintamani Bergulir, Polisi Tetapkan 5 Tersangka
“Sekitar pukul 00.00 Wita saya coba telepon, tapi HP-nya sudah tidak aktif. Kami sudah lima tahun kerja bareng di perusahaan yang sama. Biasanya kalau sudah naik kapal, kami istirahat tidur di dalam kendaraan karena kelelahan,” jelas Tirta.
Hingga hari ketiga pascakejadian, upaya pencarian masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Namun, baik korban maupun bangkai kapal belum berhasil ditemukan. Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya menjadi duka mendalam, terutama bagi keluarga korban yang hingga kini masih menanti kabar kepastian. Ts






