Persindonesia.com Jembrana – Hujan deras tanpa henti selama lebih dari 24 jam sejak Selasa (9/9/2025) pagi hingga Rabu (10/9/2025) pagi, mengubah Kabupaten Jembrana menjadi kawasan darurat banjir. Bukan hanya ratusan rumah warga yang terendam, namun jalur vital jalan nasional Denpasar–Gilimanuk lumpuh total, dan seorang perempuan dilaporkan hilang terseret arus banjir di Desa Pengambengan.
Luapan air Sungai Sebual membuat ruas jalan nasional di KM 90–91, tepat di Jembatan Sebual, tak bisa dilalui kendaraan sejak dini hari. Menurut Kapolsek Jembrana, Ipda I Ngurah Agus Dwi Widiatmika, ketinggian air pada puncaknya, sekitar pukul 04.00 Wita, mencapai lutut orang dewasa dengan arus cukup deras. “Hanya kendaraan besar yang sempat lewat, sedangkan kendaraan kecil dan motor kami hentikan karena risikonya tinggi,” ujarnya.
Kondisi serupa terjadi di depan Asrama Yonif 741 Garuda Nusantara. Hingga Rabu pagi, banjir masih bertahan di badan jalan, memaksa polisi menutup arus lalu lintas dari dua arah. Iptu Aldri Setiawan, Kasat Lantas Polres Jembrana, menegaskan penutupan dilakukan demi keselamatan. “Kami menunggu sampai air benar-benar surut dan aman dilewati,” katanya.
Jalur ini merupakan urat nadi perhubungan Jawa–Bali–NTT. Lumpuhnya akses menandai betapa rapuhnya infrastruktur publik saat menghadapi cuaca ekstrem.
Di tengah krisis itu, kabar tragis datang dari Desa Pengambengan. Nita Ulama (23), warga Dusun Kumbading, hilang terbawa arus ketika sepeda motor yang ia tumpangi bersama suaminya, Bilal Ramdhan (27), terjatuh di jalan terendam banjir deras sekitar pukul 02.30 Wita.
“Korban dibonceng suaminya pulang dari Dusun Munduk. Saat melintas jalan yang tergenang deras, sepeda jatuh. Suaminya selamat, tapi korban hanyut. Motornya sudah ditemukan, korban belum,” ungkap Kamaruzzaman, Perbekel Pengambengan. Hingga Rabu siang, pencarian masih berlangsung dengan bantuan warga, aparat desa, dan petugas.
Kakao Jembrana Jadi Pionir, Desa BISA Ekspor Lepas Produk ke Enam Negara
Terpantau, banjir di Pengambengan sendiri termasuk yang terparah. Ratusan rumah warga tergenang, air tidak hanya masuk ke halaman, tetapi juga menembus hingga kamar-kamar rumah penduduk.
Selain merendam kawasan pemukiman di Loloan Timur, Loloan Barat, Dangintukadaya, Lelateng, dan Dauhwaru, banjir juga memicu gangguan tambahan. Sebuah pohon besar tumbang di dekat SPBU Desa Kaliakah, menutup jalur Denpasar–Gilimanuk. Evakuasi sempat terkendala karena sebagian besar akses jalan juga terendam.
“Kendala utama, banyak jalan dikepung banjir sehingga hanya bisa dilewati kendaraan double cabin,” kata Kalaksa BPBD Jembrana, Putu Agus Arthana Putra.
Kejari Gianyar Terima Tersangka dan Barang Bukti Perkara Pencurian di Ubud
Menurutnya, curah hujan tinggi masih berpotensi menambah debit banjir. Ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menjaga anak-anak di sekitar genangan berarus deras.
Banjir besar di Jembrana bukan kali pertama terjadi. Dengan letak geografis dataran rendah yang dialiri banyak sungai, wilayah ini menjadi langganan banjir saat hujan ekstrem turun. Namun, skala gangguan kali ini lebih serius: jalur nasional lumpuh, aktivitas masyarakat terganggu, dan korban jiwa terancam.






