Kisah Pilu Penjual Bakso, Rombong dan Sepeda Motornya Terbakar

Persindonesia.com Jembrana – Nasib naas dialami sorang pedagang bakso keliling bernama Supandi (40) bertempat tinggal di Banjar Pertukangan, Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara, berniat jualan ditengah jalan motor yang ditungganginya terbakar. Minggu (09/05).

Kejadian naas tersebut terjadi di Jalan Ngurah Rai, Kelurahan Dauh Waru, Jembrana. Saat awak media menemui di tempat kosnya, pria yang sering dipanggil Cak Wandi mengatakan, dirinya sebelumnya mau berangkat berjualan bakso di Desa Batuagung dimana tempatnya berjualan. Senin (10/05).

Benediktus Distivianto Yoci,SE Bersama Pengusaha Tahu ” Kurma” Bagikan Sembako Kepada Masyarakat Disekitar

Dipertengahan jalan tiba-tiba sepeda motornya mengeluarkan asap, spontan dirinya loncat berusaha menyelamatkan diri melepaskan sepeda motornya, “saya langsung cari air dan tanah untuk memadamkan api takut tangki motor ikut melesak,” ujarnya.

Akibat kejadian tersebut, dirinya bersyukur selamat dari musibah tersebut, Setelah api mulai padam baru mobil pemadam kebakaran datang sehingga api benar-benar mati. “Saya berterima kasih sudah dibantu warga sepeda motor saya beserta rombong dibawa ketempat kos,” sedihnya.

Wagub Cok Ace Apresiasi UNUD Mengedukasi Hambat Covid-19

Dirinya mengaku, sudah tinggal dirumah kosan tersebut selama 15 tahun lalu, untuk menghidupi keluarganya dirinya hanya jualan bakso setiap hari, “saya hanya bisa jualan bakso saja untuk hidupi keluarga dirumah san juga mensekolahkan anak,” ujarnya.

Dalam pernikannya bersama istrinya Sugiatik dirinya memiliki 3 anak, yang pertama sebagai buruh dan sudah menikah, yang kedua masih duduk dibangku sekolah SMP kelas III dan yang ketiga baru berusia 6 tahun.

Kejari Jembrana Tatap Muka Kades dan Lurah Bahas Public Campaign Dan Sosialisasi Anti Korupsi

Dirinya berjualan bakso selama pandemi pendapatannya sangat turun derastis yang sebelum pandemi pendapatannya mencapai 500 ribu rupiah namun dimasa pandemi ini pendapatannya hanya 200 sampai 300 ribu rupiah.

“Selain menghidupi keluarga setiap hari, saya masih menanggung hutang KUR untuk modal usaha, belum lagi tiap bulan saya bayar kos sebesar 450 ribu, entahlah nasib saya kedepan apalagi mau lebaran pusing saya,” keluhnya.

PERDA No 4 Thn 2019 Memperluas Usaha Desa Adat

Atas kejadian musibah yang menimpanya Supandi berharap usahanya bisa berjalan lagi seperti semula, “sekarang memikirkan bagaimana cara memperbaiki sepeda motor saya, ini musibah buat saya,” tutupnya.

Dihari yang sama Komunitas Relawan Jembrana (KRJ) yang di ketuai oleh Erdi Suradipraja juga mengunjungi korban dan menyerahkan bantuan sebesar 500 ribu rupiah serta akan menagajukan bantuan ke Yayasan Relawan Bali. (Sub)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *