Warga Isoman Dipindahkan Oleh Satgas Covid-19 Jembrana ke Lokasi Isoter

Persindonesia.com Jembrana- Menindak lanjuti arahan Menkomarves RI Luhut Binsar Panjhaitan yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali dan Gubernur Bali Wayan Koster terkait warga isoma (isolasi mandiri) agar dipindahkan ke lokasi isoter (isolasi terpusat). Hal itu direspon cepat jajaran Satgas Covid-19 Jembrana dengan melaksanakan apel gabungan petugas baik dari jajaran Pemkab Jembrana, unsur TNI/Polri di Depar Pura Jagatnatha, Sabtu (14/8).

Didampingi Kapolres Jembrana AKBP I Ketut Gede Adi Wibawa dan Dandim 1617 Jembrana Letkol Inf. Hasriffudin Haruna, Bupati Jembrana I Nengah Tamba menyampaikan pemindahan warga isoma ke lokasi isoter merupakan arahan langsung Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Panjhaitan bersama Gubernur Bali Wayan Koster kepada seluruh jajaran satgas covid-19 Kabupaten/Kota se-Bali kemarin saat rapat evaluasi pelaksanaan PPKM di Provinsi Bali.

Puskesmas I Jembrana Lakukan Tracking dan Tasting Ditempat Rumah Warga

“Usai pelaksanaan apel gabungan ini, kita langsung bergerak, melakukan penjemputan warga yang sedang menjalani isoma, untuk dipindahkan  ke lokasi isoter yang telah disediakan. Hal itu yang paling memungkinkan dilakukan sebagai langkah memutus rantai penyebaran covid-19, selain itu juga memudahkan dalam pemantauan dan memberikan penanganan lebih baik sehingga angka kesembuhan dari covid-19 semakin meningkat ,” ucapnya.

Selain itu Bupati Tamba juga mengatakan untuk tracing dan testing agar terus di gencarkan, sehingga ketika terdapat warga yang terpapar, cepat di-tracking dan di testing, dan ketika keluar hasilnya jika terpapar covid-19 langsung dibawa ke lokasi isoter, meskipun warga tersebut statusnya OTG (Orang Tanpa Gejala).

Apel Gelar Pasukan, Kapolda Bali dan Pangdam IX/Udayana Ajak Masyarakat Isoman untuk Melakukan Isoter

“Perlu saya tekankan juga yang terpenting adalah bagi para petugas sebagai garda terdepan agar mengedukasi warga masyarakat pentingnya isoter. Supaya tidak menimbulkan konflik, petugas hendaknya ketika menjemput warga yang isoma tersebut dengan santun, bermasyarakat dan humanis. Jangan sampai psikis mereka tertekan.  Menyandang status isoma saja sudah terganggu psikis mereka apalagi dijemput dengan beramai-ramai, mereka pasti tidak mau. Kita tegas namun dengan cara yang lebih santun dan bermasyarakat,” pungkasnya. (sb/ed27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *