Persindonesia.com Gilimanuk – Viralnya video pembakaran lahan seluas 1,2 hektare di kawasan hutan Cekik, Gilimanuk, akhirnya dijawab pihak Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Pembakaran itu disebut bukan kebakaran liar, melainkan pembakaran terkendali dalam kegiatan pembinaan habitat untuk mengembalikan ekosistem asli hutan Cekik.
Sebelumnya, video yang beredar di media sosial itu memunculkan dugaan pembakaran lahan hutan yang rimbun tanpa kejelasan motifnya. Isu yang berkembang menyebut tanaman di kawasan hutan Cekik akan diganti dari tanaman keras dan semak-semak menjadi rumput.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala TNBB Gilimanuk Adang Bayu Pamungkas, dikonfirmasi Sabtu (24/10/2026) siang, membenarkan adanya pembersihan lahan di hutan tersebut. Ia menjelaskan, api pertama kali muncul pada Senin (12/10/2026) di beberapa titik sekitar kawasan Cekik yang diduga berasal dari aktivitas pencari madu.
Dalami Dugaan Penyelewengan Dana LPD Begawan Payangan, Polisi Periksa 89 Saksi
“Awalnya lahan hutan ini pada Senin (12/10/2026) lalu ada beberapa titik api di sekitar kawasan Cekik yang diduga akibat aktivitas pencari madu,” jelas Adang.
Melihat ada beberapa titik lahan yang terbakar, tim Manggala Agni TNBB kemudian melakukan pemadaman. Selanjutnya, petugas Resor Gilimanuk melakukan pembersihan lahan yang berpotensi menjadi penyebaran api, yakni tanaman jenis krinyu dan kerasi, sebagai langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas.
Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah I TNBB Isai Yusidarta menegaskan kegiatan tersebut merupakan pembinaan habitat. Menurutnya, taman nasional adalah ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi untuk pengembangan pengetahuan, pendidikan, dan penelitian yang menunjang budidaya, wisata, serta kegiatan pemanfaatan lainnya.
Bali Jajaki Pasar Sapi ke Timor-Leste, Koster Tekankan Kesiapan Pasokan dan Standar Kesehatan Ternak
Ia menyebut tanaman kerasi dan kerinyu bukan tanaman asli hutan Cekik, melainkan spesies asing yang bersifat invasif sehingga sudah sewajarnya dimusnahkan.
“Tanaman kerasi dan kerinyu bukan tanaman asli hutan Cekik. Itu adalah tanaman alien spesies invasif. Maka sudah sewajarnya di musnahkan,” jelasnya.
Ekosistem asli hutan Cekik, lanjut Isai, adalah padang savana atau padang rumput. Karena itu, untuk mengembalikan ekosistem aslinya, dilakukan pembinaan habitat dengan memusnahkan tanaman kerasi dan kerinyu. Pelaksanaannya dimulai dengan pembabatan kerasi dan kerinyu, lalu ditumpuk kecil-kecil, dan selanjutnya dilakukan pembakaran terkendali.
Lomba Bapang Barong dan Mekendang Tunggal Semarakan Malam Ketiga AKSIKU 2026
Biji rumput padang savana akan ditebar ketika musim hujan dimulai, dengan harapan biji tersebut tumbuh dengan baik sehingga ekosistem asli hutan Cekik berupa padang savana dapat kembali sesuai definisi taman nasional.
“Biji rumput Padang Savana akan ditebar ketika musim hujan dimulai dengan harapan biji rumput Padang Savana bisa tumbuh bagus. Dan ekosistem asli hutan Cekik berupa Padang Savana dapat kembali lagi sesuai dengan definisi Taman Nasional,” pungkasnya. KS






