Cerita Korban Bencana, Tiga Kali Terkena Banjir Bandang, Warga Bilukpoh Siap Pindah

Persindonesia.com Jembrana – Bencana banjir bandang di sepanjang sungai Bilukpoh menyisakan derita berkepanjangan bagi warga disekitar lokasi. Diketahui kejadian banjir bandang tersebut sudah 3 kali terjadi, dan diyakini banjir bandang tahun ini paling parah dirasakan oleh warga dilokasi. Sekitar puluhan rumah terendam banjir bandang yang disertai lumpur dan parahnya diikuti oleh balok kayu yang cukup besar dari arah hutan.

Hal tersebut tidak sedikit warga yang kehilangan rumah dan tinggal di tempat pengungsian sampai saat ini. Pihak Pemkab Jembrana dibantu oleh TNI Polri terus berupaya mengevakuasi material yang dibawa banjir bandang di sekitar lokasi. Salah satu warga bernama I Gusti Komang Putra yang rumahnya tepat berada di sebelah selatan jembatan dimana rumahnya tertimbun kayu hutan dan sampai sekarang tidak bisa ditempati.

Belasan Tiang Listrik Roboh Saat Bencana Bilukpoh, Ini Penjelasan Manager PLN Negara

Ini sudah ketiga kalinya terjadi musibah bencana banjir bandang yang menimpa rumahnya, dan ditahun ini yang paling parah. “Di tahun 2018 air sungai sudah sejajar dengan pondasi rumah dan di tahun ini air hampir menenggelamkan rumah saya. Ini saya masih berpikir tinggal dimana nantinya. mengingat setelah banjir terdahulu saya melakukan perbaikan rumah dan tempat suci menghabiskan dana 150 juta itu hasil meminjam dari bank,” terangnya. Kamis (20/10/2022).

Dirinya bercerita, saat kejadian dirinya sedang bekerja nyopir truk, dari kabupaten Tabanan terlihat cuaca cerah, hanya ada hujan lokal, akan tetapi di daerah utara situasi sudah mendung. Saat sampai dirumah sekira pukul 17.00 wita dirinya sudah melihat istrinya berjualan dan cuaca saat itu masih tidak ada hujan sampai dirinya pergi ke balai banjar untuk latihan megambel gong.

Ditemukan Mayat Terapung di Pantai Padang Galak Sebelah Selatan Pura Campuhan

“Belum sempat latihan, istri dan anak saya menelpon bahwa air sungai sudah naik diminta saya pulang untuk berkemas-kemas mencari tempat yang aman. sampai saya dirumah air sudah semakin naik dan langsung menujun balai tempek terdekat, 500 meter dari rumah ke balai tempek, kami dikepung banjir sampai kami memutuskan pergi ke Kantor Polsek Mendoyo, sampai di polsek baru hujan turun,” ujarnya.

Terkait dengan tempat tinggalnya tidak memungkinkan ditinggali kedepannya, dirinya sudah berkoordinasi dengan temannya yang lain siap pindah. “Saya sudah bisik-bisik dengan teman-teman siap untuk berpindah tempat tinggal, akan tetapi saya minta tetap di wilayah ini, untuk tanah dikasi nyicil pun kami mau, kami tidak kepikiran untuk tukar guling, kalau bisa kami masih memiliki tanah dirumah yang lama untuk kelola sebagai kebun nantinya,” terangnya.

Bupati Tamba Ancam Cabut Ijin KPH, Jika Terbukti Lakukan Penebangan Liar di Hutan

Dirinya mempunyai tanah 5 are yang sudah menjadi rumah dan ditempati 3 keluarga bersama kakanya. “Dari alamarhun orang tua saya sudah tinggal disana, seperti yang saya katakan sebelumnya , setelah berkoordinasi dengan teman-teman kami siap pindah akan tetapi masih di wilayah disini. Kami sudah trauma 3 kali terkena banjir bandang, saya sia-sia memperbaiki rumah dan tempat sudi sebelumnya sekarang lagi terkena banjir,” pungkasnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *