Eskalasi Intimidasi Terhadap Adinda Pasca-Putusan Mahkamah Agung: Hak Asuh Penuh Berujung Teror

Denpasar, persindonesia.com –
Alih-alih mendapatkan kedamaian dan kepastian pasca putusan Mahkamah Agung (MA) pada tanggal 14 Juli 202 terkait hak asuh penuh atas anak kembarnya, Adinda Viraya Paramitha justru dikabarkan menerima gelombang gangguan dan intimidasi yang meningkat tajam dari pihak mantan suami berkebangsaan Australia, Paul Lionel La Fontine. Intimidasi ini tidak hanya bersifat personal tetapi juga melibatkan penggunaan aparat penegak hukum dan kampanye digital masif, sehingga menimbulkan pertanyaan serius mengenai keadilan dan perlindungan korban di Indonesia. Bentuk-bentuk intimidasi yang dialami Adinda bersama keluarganya, yaitu gangguan fisik dan sosial. “Mantan suami mendatangi rumah saya, dan berteriak-teriak, sehingga mengganggu ketenangan lingkungan sekitar. Ia juga mendatangi dua tempat kerja saya dan mengintimidasi tetangga setempat, menambah trauma mendalam bagi diri saya dan anak-anak,” ungkap Adinda dalam keterangannya di Denpasar, Rabu (12/11/2025).

Dikatakan Adinda, puncaknya Paul dikabarkan membawa puluhan aparat kepolisian ke rumah Adinda dengan tuduhan palsu adanya penyiksaan anak. Ia juga melakukan kampanye digital secara masif, memposting foto anak-anak di media sosial seolah mereka hilang, diculik, atau disiksa. Bahkan, bulan lalu Paul mendatangi rumah Ibu Adinda yang sudah tua bersama perangkat Desa pukul 21.00 Wita yang membuat Ibunda Adinda merasa tertekan dan terintimidasi. Menanggapi tuduhan palsu penyiksaan anak, Adinda memberikan kesaksian yang kuat dari lingkungan terdekatnya. “Tetangga kami saja, yang dindingnya menempel langsung dengan kamar anak, bersaksi bahwa anak-anak selalu terdengar tertawa dan bermain riang. Jika anak-anak benar-benar disiksa, penuh memar, dan tidak bahagia, saya yakin Anda semua yang berada di Bali sudah melaporkannya sendiri, karena pada dasarnya kami tidak pernah bersembunyi. Kami bersosialisasi dengan anak-anak dan sesama orang tua, guru- guru setiap hari. Keseharian kami sangat normal dengan masyarakat sekitar di Uluwatu,” terangnya.

Adinda juga menyatakan keheranannya terhadap jajaran kepolisian. Menurut wanita asal Surabaya, Jawa Timur ini, kepolisian sudah menutup laporan KDRT yang dialaminya bersama anak-anak. “Sekarang malah mendatangi rumah kami bersama mantan suami dengan tidak ada bukti apapun tentang kekerasan terhadap anak-anak. Disatu sisi Paul di media berteriak-teriak bahwa polisi minta dibayar, dan sekarang rumah kami digerebek oleh puluhan jajaran kepolisian. Ada apa dengan keadilan di Indonesia?” ujarnya dengan nada tanya.
Untuk diketahui, putusan Mahkamah Agung pada tanggal 14 Juli 2025 yang memenangkan hak asuh Adinda didasari oleh bukti-bukti yang tidak terbantahkan, antara lain beberapa video atas dugaan KDRT yang dialami. ​Laporan psikologis anak-anak yang menilai Paul tidak dapat memberikan rasa aman dan perlindungan.

​Bukti perjanjian perdamaian di mana Paul wajib menafkahi anak tetapi tidak dipenuhi selama 2 tahun. Terkait isu pernikahan barunya, Adinda meluruskan narasi yang digiring Paul di media bahwa ia mengkhianati Paul. Adinda menunjukkan akte pernikahan yang terjadi pada tahun 2023, tiga tahun setelah ia menggugat cerai Paul. “Saya sudah meminta cerai sejak akhir 2019 di Afrika Selatan sebelum pulang ke Bali. 2020 adalah perceraian tingkat I saya. Pertama kali saya mengenal suami saya pada akhir 2022 sesudah MA memutuskan perceraian. Ini adalah ayah sambung anak-anak saya yang sudah berani mengasuh mereka, membayar sebesar apapun kebutuhan mereka, dan melindungi kesehatan fisik dan mental mereka,” urai Adinda.

Adinda meminta publik untuk mendalami ciri-ciri psikopat, NPD (Narsistik Personality Disorder), dan pathological liar agar tidak ada lagi korban lain yang mengalami penderitaan bertahun-tahun seperti dirinya. Sebagai respons terhadap intimidasi yang berkelanjutan, Adinda dan suami barunya telah melaporkan dugaan tindakan pencemaran nama baik yang masif terhadap mereka dan akan menggugat Paul di pengadilan. “Kebenaran akan selalu terungkap dengan sendirinya. Saya meminta Paul tidak usah berpura-pura lagi playing victim dan berusaha menjatuhkan saya dan keluarga saya,” tandasnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *