Festival Budaya Loloan, Menghadirkan Pedang Daeng Gusti Ngurah Pancoran

Persindonesia.com Jembrana – Setelah melewati pandemic Covid-19 selama hampir selama 3 tahun lamanya, akhirnya Festival Budaya Kampong Loloan kembali dibuka. Festival tersebut dibuka selama 3 malam yang diawali dengan Pawai Obor pada tanggal 29 Juli 2022, pada tanggal 30 Juli 2022 diadakan pameran budaya tempo dulu yang diberi nama “Loloan Jaman Lame”, festival akan diakhiri pada tanggal 31 Juli 2022 ditutup dengan Pengajian Akbar.

 

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, festival budaya kali ini masih mempertunjukan budaya-budaya kuno seperti alat kesenian tempo dulu, kuliner, ritual keagamaan, benda kuno bersejarah, mainan tradisional, senjata kuno serta prasasti tanah wakaf. Dalam perayaan kali ini yang paling menarik oleh para pengunjung adalah adanya senjata pedang daeng yang pernah digunakan oleh Raja Jembrana I Gusti Ngurah Pancoran yang berkuasa sekitar tahun 1669 masehi.

DPD dan DPC Se Provinsi Gorontalo Resmi Dikukuhkan

Sejak kedatangan penjajah di Indonesia dan merambah ke Pulau Bali, untuk mempertahankan wilayah Jembrana, salah satu warga Loloan Timur membuat 2 bilah pedang yang di beri nama Pedang Daeng dan diserahkan kepada Raja Jembrana I Gusti Ngurah Pancoran pada saat itu yang dimulai dengan penjajahan VOC. Pedang tersebut membunuh ratusan tantara VOC.

Pedang tersebut secara turun temurun di pergunakan untuk berperang melawan penjajah, terakhir kalinya di Tahun 1950 saat penjajahan Jepang dan Belanda kembali Pedang Daeng dipergunakan. Hal tersebut diutarakan oleh salah satu pemuda yang mengurus stand benda sejarah bernama Zaidan. pedang tersebut juga sempat dipegang oleh Bupati jembrana I Nengah Tamba saat menghadiri Festival Loloan Jaman Lame tadi malam. Sabtu (30/7/2022).

Haul Akbar Sambut Tahun Baru 1 Muharam 1444 H

“Pedang Ida Bagus Pancoran ini di muat pada tahun 1950 lebih dibuat oleh warga Loloan Timur untuk menjelajahi Desa Loloan, pedang ini juga digunakan pada saat perjuangan melawan tantara Jepang dan Belanda sampai Indonesia merdeka,” bebernya.

Sementara Kordinator Pantitia Festival Budaya Loloan bernama Fahrul Mahali didampingi oleh Siti Syuhda menerangkan, yang ditonjolkan pada festival kali ini adalah tradisi budayanya untuk mengenalkan kepada anak-anak muda da kepada masyarat yang sudah lupa dengan tradisi budaya. “Disinilah mereka diingatkan kembali, mengenang kembali budaya kita jaman dulu. Festival budaya ini kita ambil moment di tahun baru hijriah untuk mengingat Loloan Jaman Lame, jadi setiap tahun tetap kita mengambil di tanggal 1 muharram tahun baru Islam 1444 Hijriah,” terangnya.

Bupati Tamba Apresiasi Festival Budaya “Loloan Djaman Lame”

Festival budaya ini, lanjut Fahrul, merupakan yang keempat dilaksanakan yang dimulai dari tahun 2017 sempat terhenti dikarenakan pandemi Covid-19 selama 2 tahun tidak diadakan. “Seluruh kebudayaan dari jaman dulu sampai sekarang kita tampilkan disini, mulai dari kuliner, ritual keagamaan, kesenian-kesenian seperti alat kesenian kemudiam benda-benda kuno bersejarah seperti prasasti tentang penyerahan wakaf tanah masjid, alqur’an tulisan tangan, senjata kuno pada saat perjuangan,” jelasnya.

Kemudian juga, imbuhnya ditampilkan gaya hidup dulu seperti rokok jaman dulu, nginang, menumbuk dari padi menjadi beras, ini semua sudah ada standnya masing-masing. “Terkait benda-benda bersejarah yang ditampil di festival tersebut ia mengaku barang-barang kuno seperti senjata dan lainnya di simpan oleh warga kecuali prasasti dan alqur’an disimpan di masjid,” pungkasnya. Vlo

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *