Harga Semen Naik dan Barang Kosong, Toko Bangunan di Jembrana Menjerit

Persindonesia.com Jembrana – Kabupaten Jembrana tengah mengalami kelangkaan pasokan semen dan bahan bangunan lainnya akibat dampak dari antrean panjang di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Antrean tersebut terjadi akibat kombinasi cuaca ekstrem, lonjakan kendaraan dampak rekayasa lalu lintas nasional, serta kebijakan keselamatan pelayaran yang diberlakukan otoritas pelabuhan.

Kelangkaan ini menyebabkan sejumlah toko bangunan tidak lagi menjual semen. Kalaupun tersedia, harga semen mengalami lonjakan hingga Rp3.000 per sak.

“Semen sudah tidak ada sejak seminggu terakhir. Khusus semen merek Dinamit harganya naik, sementara semen merek lain sangat langka. Uang ada, tapi barangnya tidak ada,” ujar Dwi Arsa, pemilik Toko Bangunan Krisna Jaya di Desa Dangintukadaya, Jumat (1/8).

Sekda Surya Suamba Lepas Kontingen Atlet KORPRI Badung

Menurutnya, pasokan semen sangat terbatas. Pihaknya hanya mendapat jatah sekitar 50 sak semen per hari. Situasi tersebut memaksa para pedagang menaikkan harga jual karena tingginya permintaan dan minimnya pasokan. Tak hanya semen, harga besi diprediksi ikut naik dalam waktu dekat.

“Saat ini harga besi masih stabil karena masih ada stok, tapi distributor sudah memberi info mulai awal Agustus harganya naik. Barang dari Jawa juga tertahan di Pelabuhan Ketapang,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Ni Putu Dharawati, pemilik Toko Sinar Bangunan yang juga berlokasi di Desa Dangintukadaya. Ia mengaku sudah lima hari tidak menjual semen karena tidak mendapat pasokan.

Kunjungan Wisman ke Penglipuran Naik di Tengah Konflik Negara Kamboja dan Thailand

“Sudah lima hari kami tidak punya semen. Banyak konsumen datang tapi tidak dapat barang. Selain langka, harganya juga naik. Beli di gudang pun harus antre, siapa cepat dia dapat,” terangnya.

Ia menambahkan, kelangkaan juga mulai merambah bahan bangunan lain, meski sebagian besar masih stabil harganya. “Untuk bahan bangunan lainnya harganya masih stabil, akan tetapi tidak ada kemungkinan harganya naik kalau masih ada antrean di Pelabuhan Ketapang,” ucanya.

Sementara itu, Kepala Cabang PT Saka Agung Abadi, Aditya Junaidi, membenarkan bahwa distribusi semen dari Jawa mengalami hambatan serius. Menurutnya, kapal penyeberangan di Pelabuhan Ketapang hanya memprioritaskan kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton. Truk besar bermuatan 30 ton ke atas harus antre berhari-hari sebelum dapat menyeberang ke Bali.

Jadi Tumpuan Masyarakat, Gula Dawan Siap Menuju Perlindungan Indikasi Geografis

“Pengiriman ke gudang kami sangat terdampak karena suplai dari gudang induk di Banyuwangi tersendat. Truk bermuatan besar bahkan harus menginap 2–3 hari sebelum bisa menyeberang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pihaknya kini harus membagi rata pasokan semen kepada toko-toko di Jembrana, sementara harga semen masih stabil. “Untuk saat ini harga semen tidak ada kenaikan. Hari ini kami dapat dua truk tronton, tapi langsung habis dibagi ke toko-toko. Ini sudah terjadi sejak jalan putus di Bajra, Tabanan, lalu merembet ke antrean di Ketapang. Penyeberangan dibuka-tutup, itu yang bikin suplai ke gudang kami terlambat,” pungkasnya. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *