Hijau dari Sabut: Cara Sederhana Mengubah Limbah Kelapa Jadi Kompos Hijaukan Lingkungan dan Bernilai Ekonomi

Limbah Sabut/kulit kelapa

Denpasar persindo – Siapa sangka, limbah kulit kelapa yang sering dibuang begitu saja ternyata menyimpan potensi besar sebagai penyubur tanah alami.

Serat sabut kelapa mampu memperbaiki struktur tanah karena meningkatkan sirkulasi udara dan membuat tanah yang padat menjadi lebih gembur. Selain itu, sabut kelapa juga menyimpan air hingga delapan kali lipat dari beratnya, sehingga mampu menjaga kelembapan tanah lebih lama, terutama saat musim kemarau. Tak hanya itu, kulit kelapa mengandung unsur hara penting seperti kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan lignin.

Kandungan ini dapat memperkaya bahan organik tanah dan mendukung aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam proses pembentukan humus. Untuk pemanfaatannya, Putu menuturkan beberapa cara yang bisa dilakukan masyarakat agar limbah kelapa tidak terbuang percuma. Salah satunya dengan mengolah sabut kelapa menjadi kompos atau cocopeat (serbuk sabut kelapa). Juga kulit kelapa bisa dicacah kecil dan dicampur dengan daun kering atau kotoran ternak. Dibiarkan saja selama satu sampai dua bulan, nanti jadi kompos alami. Selain dibuat kompos, sabut kelapa juga bisa dimanfaatkan sebagai mulsa alami, yakni bahan pelindung di atas permukaan tanah di sekitar tanaman. Dengan cara ini, kelembapan tanah tetap terjaga, pertumbuhan gulma bisa ditekan, dan bahan organik tanah bertambah seiring waktu. Putu berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari nilai ekonomis dan ekologis dari kulit kelapa. Jadi limbah kelapa itu jangan langsung dibuang. Kalau diolah dengan benar, bisa jadi pupuk alami, media tanam, bahkan tambahan penghasilan.

Upaya pelestarian lingkungan tak selalu harus dimulai dari hal besar. Di tangan kreatif masyarakat, limbah rumah tangga pun bisa disulap menjadi sumber manfaat bagi alam.Menurutnya, serat sabut kelapa dapat meningkatkan aerasi tanah, membuat tanah lebih gembur, dan mampu menyimpan air hingga delapan kali lipat dari beratnya, sangat bermanfaat di musim kemarau. Selain itu, sabut kelapa juga kaya unsur hara alami seperti kalium, kalsium, magnesium, dan lignin, yang membantu pembentukan humus dan mendukung kehidupan mikroorganisme tanah.

Putu asal Buleleng.

Menurut Putu salah seorang anak muda yang gigih asal Buleleng pelaku bisnis UMK kelapa muda (Mulung dan kelapa biasa), menuturkan pengalamnnya, Inovasi sederhana untuk limbah kulit kelapa untuk dijadikan kompos, menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan limbah organik dapat mendukung pertanian berkelanjutan, mengurangi pencemaran, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat lokal.Selama ini banyak orang hanya memanfaatkan air dan daging kelapa muda, sementara kulit atau sabutnya dianggap tak berguna. Padahal, bagian tersebut memiliki kandungan organik tinggi yang sangat bermanfaat bagi tanah dan tanaman,kata Putu.

Putu menambahkan, “Saya dulu sering buang kulit kelapa karena menumpuk banyak. Tapi setelah saya coba olah jadi bahan kompos, hasilnya luar biasa. Tanah jadi gembur, tanaman lebih subur,” ujarnya saat ditemui di salah satu areal lingkungan tempat jual kelapa mulung Tamkot Denpasar.

“Limbah kelapa jangan dianggap sepele. Kalau diolah dengan benar, bisa jadi pupuk alami, media tanam, bahkan tambahan penghasilan,” ujar Putu menutup perbincangan.

Karang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *