PERSINDONESIA.COM – Semangat gotong royong dan kebersamaan (menyama braya) kembali menjadi kekuatan utama masyarakat Desa Adat Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Hal tersebut terlihat jelas dalam pelaksanaan Upacara Pitra Yadnya Ngaben Massal yang berlangsung dengan khidmat pada Jumat (7/8/2026).
Upacara suci yang menjadi tradisi turun-temurun ini diikuti oleh sebanyak 49 sawa dari krama Desa Adat Kedisan. Selain sebagai kewajiban spiritual umat Hindu untuk menyucikan roh para leluhur, tradisi ini sekaligus menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan sarana mempererat tali persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat adat.
Salah satu hal esensial dari pelaksanaan Ngaben Massal ini adalah hadirnya efisiensi beban biaya. Melalui sistem kolektif, masyarakat dapat melaksanakan pengabenan dengan pembiayaan yang jauh lebih ringan dibanding pengabenan secara mandiri/perorangan.
Berdasarkan kesepakatan paruman desa, setiap Kepala Keluarga (KK) di Desa Adat Kedisan dikenakan iuran sebesar Rp500 ribu. Besaran nominal ini berlaku merata bagi seluruh KK, baik yang memiliki sawa pada periode ini maupun yang tidak.
Kebijakan ini mencerminkan nilai tanggung jawab bersama, di mana beban yadnya tidak semata-mata ditanggung oleh keluarga yang berduka, melainkan disangga secara kolektif oleh seluruh warga desa adat.
“Prinsip kebersamaan inilah yang membuat tradisi Ngaben Massal tetap lestari dan mendapat dukungan penuh dari seluruh masyarakat,” ujar salah seorang tokoh adat setempat.
Ngaben Massal di Desa Adat Kedisan tidak diselenggarakan setiap tahun, melainkan secara berkala setiap dua hingga tiga tahun sekali. Penentuan waktu pelaksanaan selalu menyesuaikan dengan hasil kesepakatan paruman desa, kesiapan krama.
Sejak beberapa hari menjelang puncak acara, suasana gotong royong telah membungkus seluruh sudut desa. Ratusan warga pria, wanita, pemuda, hingga orang tua tampak sukarela hadir sebagai pengayah. Mereka bergotong royong menyiapkan sarana upakara, mendirikan bangsal, menghias areal upacara, hingga memandu jalannya lalu lintas teknis di lapangan.
Pada puncak pelaksanaan Jumat hari ini, seluruh rangkaian ritual berjalan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan. Keluarga pemilik sawa mengikuti prosesi dengan rasa bakti mendalam, didampingi dukungan penuh dari krama desa yang sigap membantu hingga akhir acara. (*)






