Gianyar,PersIndonesia.Com- Pawai Budaya menyongsong perayaan HUT Kota Gianyar yang ke-254 tahun 2025 menjadi tontonan paling ditunggu-tunggu masyarakat. Hal tersebut memacu semangat duta 7 Kecamatan Se-Kabupaten Gianyar untuk tampil memukau dengan menunjukkan kreasi terbaiknya di hadapan masyarakat dan tamu undangan, di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis 17 April 2025.
Perayaan HUT ke-254 Kota Gianyar Tahun 2025 mengusung tema “Paramaguna Kalangon” yang memiliki arti martabat unggul Kabupaten Gianyar pancarkan pesona asri, indah, aman, dan nyaman. Dalam pawai kali ini para seniman menyajikan karya kreatif yang mengarah pada penggambaran jati diri dan kekhasan budaya daerah di wilayah Kabupaten Gianyar yang selalu berkembang.
Pawai Budaya dibuka dengan penampilan memukau dari Duta Kecamatan Tegallalang yang mengangkat cerita Memelang, ritual sakral tahunan yang dilaksanakan di Desa Sebatu sebagai ungkapan rasa syukur krama subak dan doa untuk kesuburan padi. Puncaknya menampilkan ogoh-ogoh Batan Merem dari ST. Cila Mekar. Kemudian duta Kecamatan Payangan menampilkan fragmentari yang berjudul Tirta Malung, yang menceritakan tentang perjalanan Rsi Markandiya ke Desa Melinggih Kelod Payangan, dimana beliau mendirikan tempat pemujaan yang disebut Tirta Malung. Sampai sekarang bebaturan tersebut menjadi sebuah tempat suci disebut Pura Sinutan, dan seiring perkembangan jaman yang akhirnya menjadi Pura Senetan. Puncaknya Kecamatan Payangan menampilkan ogoh-ogoh Bhuta Dungulan.
Dilanjutkan penampilan dari Duta Kecamatan Tampaksiring menampilkan kesenian tari khas lokal Desa Pejeng Kaja seperti Tari Rejang Pependetan dan Tari Baris Bedil, sebagai wujud simbul atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai Garapan Tematik, Kecamatan Tampaksiring menampilkan fragmentari dengan judul Asura Bhuta, yang menceritakan tentang kisah perjalanan Mayadenawa akan adanya tukad petanu. Puncaknya Kecamatan Tampaksiring menampilkan ogoh-ogoh Tulak Tunggul.
Tak kalah menarik Duta Kecamatan Ubud menampilkan karya monumental yang sudah tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu Legong Peliatan. Selain itu Duta Kecamatan Ubud juga menampilkan fragmentari yang berjudul Singa Ambara Kerta. Pucaknya Duta Ubud menampilkan ogoh-ogoh Catur Sanak dari STT. Pandawa Banjar Tarukan Mas. Duta Kecamatan Sukawati membawakan garapan tematik dengan judul Mekencan Kencan, yang memiliki makna ungkapan rasa bahagia dan syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa karena seluruh rentetan sudah berjalan dengan baik. Upacara Makencan-kencan diawali dengan tarian rejang Dewa, prosesi pemendakan, prosesi metajen, gegaluhan, Tarian Gambor, persembahan Baris Miasa, dan acara Incang Incung yang diakhiri dengan Nguying atau ngurek. Puncaknya Duta Kecamatan Sukawati menampilkan ogoh-ogoh Sapatha Kala atau Kutukan Kala.
Duta Kecamatan Blahbatuh membawakan pementasan yang berjudul Saeka Shanti yang menceritakan, tentang pesamuan dari Sembilan sekta dipadukan menjadi Tri Murti menganut paham Siwa Budha sebagai dasar agama, pembentukan Pura Kayangan Tiga dan Desa Pekraman. Dimana, tempat pelaksanaan samuan agung tersebut diberi nama Pura Samuan Tiga yang berlokasi di Desa Bedulu Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. Puncaknya Duta Blahbatuh menampilkan ogoh-ogoh Sandikala dari ST. Dharma Sisula.
Terakhir penampilan dari Duta Kecamatan Gianyar membawakan fragmentari dengan judul Kancing Gelung, mengisahkan perjalanan suci Dharmayatra Dang Hyang Niratha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh menuju arah timur, biasanya beliau menganugerahkan Kancing Gelung yang diletakkan di pelinggih sebagai tanda bahwa beliau pernah berdharma yatra ke pura tersebut. Puncaknya Duta Gianyar menampilkan ogoh-ogoh Sapta Timira.
Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Menurutnya pawai yang digelar mengedepankan tata titi Jagat Bali dimana melibatkan adat, seni, dan budaya. Kabupaten Gianyar memang maju dari segala aspek, jangan sampai menggerus adat dan budaya Gianyar yang memang menjadi ikon Kota Seni di Bali.
“Dengan pawai ini akan memberikan wadah kepada seniman dan budayawan untuk mengeluarkan karya terbaiknya. Saya berharap masyarakat yang hadir dalam pawai ini Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentram Kerta Raharja,” ujarnya.
Bupati Gianyar I Made Mahayastra menyampaikan rasa bangganya atas pawai seni dan budaya yang ditampilkan dan dihadiri Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta. Dikatakannya pawai budaya ini, merupakan salah satu momentum kita untuk memperkenalkan, menyebarluaskan dan melestarikan kekayaan seni dan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Gianyar.
Untuk itu diharap pawai budaya ini tidak hanya menjadi tontonan yang indah, tetapi juga menjadi representasi utuh dari kekayaan dan keberagaman budaya Kabupaten Gianyar.
“Kami berkomitmen untuk terus mendorong dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan seni dan budaya di seluruh wilayah Gianyar, sebagai upaya nyata dalam melestarikan warisan leluhur dan memperkuat identitas Gianyar yang kita cintai”, ungkapnya. (DG)






