Petani Kopi Buleleng Dongkrak Produktivitas Melalui Electrifying Agriculture

Persindonesia.com Buleleng – PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli berkolaborasi dengan Kelompok Petani Kopi Payu Landuh di Munduk, Buleleng memasyarakatkan mesin pengolahan kopi berbasis listrik.

Hal ini sejalan dengan program PLN electrifying agriculture yang telah terbukti mampu mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional pertanian dengan memanfaatkan energi listrik.

Dalam sambutannya saat menyerahkan bantuan kepada kelompok tani secara langsung di Rumah Belajar Kelompok Petani Kopi Payu Landuh, Jumat (27/12), Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali, I Wayan Eka Susana menyampaikan pihaknya mendukung penuh peningkatan kesejahteraan para petani di Munduk.

Ia menjelaskan bahwa TJSL hadir untuk membantu menggerakkan roda perekonomian dan menjaga lingkungan.

Cuaca Buruk, Perahu Selerek Milik Nelayan Jembrana Tenggelam di Perairan Pulukan

Wayan Eka juga mengatakan agar petani dapat mengembangkan dan beradaptasi terhadap perubahan teknologi. “Jika ingin maju jadilah petani, namun petani yang bisa upgrade terhadap teknologi perlu agar ke depannya dapat terus berkembang,” ucapnya.

Menurutnya, petani jangan sampai menjadi penonton saja. Sehingga petani kopi harus bekerja sama dengan pelaku pariwisata, atau coffee shop, dan Rumah BUMN agar bisa meningkatkan nilai kopi melalui pola-pola marketing.

“Masyarakat juga harus mengembangkan produk kopinya tak hanya bijinya saja yang dijual namun produk turunan juga bisa diproduksi seperti sabun, permen dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Ia berharap melalui bantuan peralatan yang diberikan dapat memberikan motivasi kepada para petani untuk terus konsisten.

Gudang Café Gula-Gula Delod Berawah Terbakar

Ketua Kelompok Tani Kopi Payu Landuh, Putu Ardana mengatakan kelompok tani ini merupakan gerakan keprihatinan sekaligus idealisme. “Kami prihatin karena melihat banyak petani yang menanam bunga dan sayur masih menggunakan pupuk kimia sehingga merusak tanah,” ungkapnya.

Ia dan kelompok berupaya mengajak masyarakat agar mau kembali bertani kopi dengan sistem pola tanam yang lebih ramah lingkungan. Karena, menurutnya, sumber air yang mengairi subak di Tabanan dan daerah lain yang lebih rendah diyakini berasal dari Munduk.

“Apa yang dilakukan PLN terhadap kelompok tani, masyarakat munduk, merupakan tahap awal, dan berharap program ini terus terlaksana sehingga dapat memberikan manfaat bagi PLN dan juga masyarakat,” harapnya.

Hadir dalam kegiatan ini, Perbekel Desa Munduk, Nengah Sudira yang menyampaikan bahwa Desa Munduk ini dulu sebagian besar petani dan berkebun. Setelah beberapa tahun ada perkembangan akibat harga kopi yang murah serta ada penetrasi pariwisata, sehingga kopi sempat menurun popularitasnya.

Misteri Hilangnya Pendaki WNA Asal Korsel di Gunung Agung Terungkap

Ia pun mengapresiasi PLN atas sumbangsihnya kepada kelompok petani di Desa Munduk. “Kepada PLN terima kasih atas sumbangsihnya, sehingga dapat memberikan kesejahteraan. Ke depannya petani kopi tetap bersinergi dengan masyarakat. Diharapkan kualitas kopi lebih baik, akhirnya kehidupan masyarakat kami bisa meningkat,” pungkasnya. As

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *