JAKARTA,Persindonesia.com – Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sejumlah pakar dan aktivis menggelar diskusi publik bertajuk “Urgensi Kebebasan Sipil untuk Masa Depan Demokrasi Indonesia” di Kedai Kopi , Jakarta, Sabtu (2/5). Diskusi ini menyoroti pentingnya penguatan pilar-pilar demokrasi melalui aktivisme mahasiswa, transparansi birokrasi, dan sistem meritokrasi.
Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, dalam pemaparannya menekankan perlunya mengembalikan mahasiswa pada khittahnya sebagai kekuatan pengontrol sosial. Menurutnya, keterlibatan aktif mahasiswa adalah mitra strategis bagi pemerintah dalam memastikan kebijakan negara tetap akuntabel. Dengan aktivisme yang sehat, pemerintah justru terbantu dalam melakukan pengawasan internal guna menciptakan birokrasi yang lebih bersih dan transparan.
Sejalan dengan hal tersebut, ekonom senior sekaligus salah satu tokoh kunci Barisan Oposisi Indonesia Prof. Anthony Budiawan menyoroti perlunya transformasi fundamental dalam tubuh birokrasi. Beliau mendorong pemerintah untuk beralih dari peran sekadar regulator menjadi pelayan rakyat yang sejati. “Ruang diskusi publik yang inklusif dan transparan adalah kunci legitimasi kebijakan,” ungkapnya. Dengan melibatkan masyarakat secara substansial dalam penyusunan regulasi, potensi resistensi dapat diminimalisir dan diubah menjadi dukungan publik yang solid.
Dari perspektif tata kelola, Prof. Dr. TB Massa Djafar menggarisbawahi pentingnya efektivitas partai politik sebagai agen kaderisasi. Ia meyakini bahwa penguatan sistem meritokrasi dalam kepemimpinan nasional akan melahirkan elit politik yang berintegritas. Hal ini dipandang selaras dengan visi besar pemerintah dalam mempercepat reformasi tata kelola pemerintahan agar lebih stabil dan kompetitif di kancah global.
Diskusi ini juga menghasilkan catatan penting mengenai perlunya regulasi yang lebih ketat dalam membatasi konflik kepentingan guna melawan pengaruh oligarki. Para narasumber sepakat bahwa pembersihan sistemik yang berkelanjutan akan membawa Indonesia menuju tata kelola yang adil, inklusif, dan bebas dari kepentingan segelintir kelompok.
Acara yang diinisiasi oleh Pimpinan Pusat Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PP PRIMA DMI) ini diharapkan menjadi pemantik optimisme bagi generasi muda untuk terus mengawal jalannya demokrasi demi masa depan Indonesia yang lebih baik.






