Persindonesia.com Tegal – Proyek Rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Kumisik senilai Rp64,22 miliar di Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, justru menjadi petaka bagi petani. Saluran irigasi tersier yang menjadi nadi pertanian dari Batuagung hingga Kaliwungu ditutup dan diurug tanah untuk membuka jalan akses logistik proyek, sehingga pintu air nomor 7 hingga 12 tertimbun material galian dan tidak berfungsi.
Petugas pengairan desa (Ulu-ulu) Banjaran, Amrin, menjelaskan saluran tersier itu tertutup bekas galian dan pengurugan jalan. Padahal saluran tersebut merupakan tersier pertanian. Ia menyampaikan hal itu dengan nada geram saat ditemui di lokasi, Rabu (8/10/2026).
“Irigasi tersier itu tertutup karena bekas galian dan pengurugan jalan. Padahal ini tersier pertanian, bukan sekadar saluran biasa. Pintu air nomor 7 sampai 12 semuanya tertutup buangan material proyek. Jika tersier tertutup, petani mau makan apa?” tegasnya.
Menurut Amrin, satu pintu air mengairi 85 hektare sawah. Ketika pintu itu ditutup, 85 hektare lahan langsung mengering.
Hendak Bundir Lompat dari Kapal di Gilimanuk, Pria Asal Jember Diselamatkan Nelayan
“Satu pintu di tempat saya mengairi 85 hektar. Begitu ditutup, otomatis 85 hektar itu tidak bisa dapat air sama sekali. Padahal ini sudah memasuki masa pengolahan tanah. Mau ambil air dari mana lagi?” keluhnya.
Pihak kontraktor hanya berjanji secara lisan akan menguras kembali saluran setelah drainase rampung, tanpa komitmen tertulis.
Kepala Desa Batuagung Bambang Purnomo menyebut petani di desanya terpaksa gagal panen pada saat yang seharusnya menjadi masa panen dengan harga gabah yang sedang tinggi.
“Seharusnya bulan Oktober ini petani panen saat harga gabah sedang bagus-bagusnya, tapi terpaksa tidak bisa panen. Biasanya walaupun kemarau, petani masih bisa panen karena ada air irigasi. Karena sekarang ada perbaikan, petani tidak bisa tanam, bahkan ada yang padinya mati karena tidak bisa mengairi,” ungkapnya.
Proyek tersebut dikerjakan PT Indo Raya Kabenteng melalui E-Purchasing TA 2026 di bawah Satker SNVT PJPA Pemali Juana, dengan target rampung November 2026. Saat penandatanganan kontrak di Kantor BBWS Pemali Juana Semarang, pihak pelaksana menyatakan komitmen transparansi, asas manfaat, dan tepat sasaran bagi masyarakat.
Hingga berita ini ditayangkan, BBWS Pemali Juana belum memberikan klarifikasi. Sementara itu, puluhan petani bersama Ulu-ulu dan pemerintah desa mendesak kontraktor dan BBWS segera membuka kembali pintu irigasi yang tertutup serta bertanggung jawab atas ancaman gagal panen tersebut. (Karmono)






