Puspa Negara: Bali Butuh Transportasi Publik yang Nyaman dan Efisien untuk Atasi Kemacetan

Persindonesia.com Badung – Transportasi publik adalah kebutuhan dasar yang menjadi kewajiban pemerintah untuk menyediakannya. Di Bali, tampaknya transportasi publik belum dianggap sebagai prioritas, padahal keberadaannya merupakan indikator kemajuan pembangunan. Sebagai destinasi wisata internasional, Bali seharusnya memiliki sistem transportasi publik yang terintegrasi dan terkoneksi antarobjek wisata.

Faktanya, masyarakat Bali cenderung lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas. Kebiasaan ini menyebabkan penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu yang akhirnya menimbulkan kemacetan. Padahal, jika tersedia transportasi publik yang nyaman dan efisien, masalah ini bisa diminimalisir.

Lantas, mengapa transportasi publik seolah ditinggalkan? Salah satu penyebabnya adalah kebijakan transportasi yang belum berpihak pada masyarakat. Perubahan kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi memerlukan pendekatan kebijakan yang cerdas dan akurat. Pemimpin daerah harus berinovasi dalam menciptakan transportasi publik yang menarik dan efisien, sehingga masyarakat berangsur-angsur beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.

Transportasi publik idealnya mampu mengurangi kemacetan dan menjadi bentuk insentif bagi masyarakat atas pajak dan retribusi yang mereka bayarkan. Oleh karena itu, transportasi publik di Bali harus tetap ada sebagai bentuk pelayanan kepada warga dan wisatawan.

Saya setuju dengan penghentian operasional Trans Metro Dewata selama evaluasi menyeluruh dilakukan. Evaluasi ini diharapkan mampu menghadirkan transportasi publik yang lebih nyaman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu catatan penting adalah perlunya memberikan prioritas pada transportasi publik, seperti halnya pengawalan yang diberikan kepada pejabat. Transportasi publik harus dirancang lebih nyaman dan memiliki daya tarik sehingga dapat mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat.

Di sisi lain, pembangunan LRT yang telah dimulai sejak September 2024 menjadi harapan baru bagi sistem transportasi publik di Bali. Proyek ini diharapkan bisa menjadi alternatif transportasi yang diidamkan warga dan wisatawan. Jika sesuai rencana, LRT tahap pertama akan beroperasi pada tahun 2028.

Penghentian sementara operasional Bus Trans Metro Dewata harus menjadi momentum untuk menghadirkan transportasi publik yang unik dan mampu menjadi daya tarik tersendiri. Dengan transportasi publik yang terintegrasi, nyaman, dan efisien, Bali akan semakin siap menjadi destinasi wisata berkelas dunia yang ramah bagi semua pihak.

(Wayan Puspa Negara, SP., M.Si  : Anggota DPRD Badung Fraksi Gerindra, Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *