Sempat Merugi Hingga Ratusan Juta, BUMDes Bangbang Intens Biayai Peternakan Babi

PersIndonesia.Com,Bangli- Sempat mengalami kerugian hingga ratusan juta, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Sejahtera Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli hingga saat ini masih intens melakukan pengelontoran dana pada sektor peternakan babi dengan sistem bagi hasil antara BUMDes dan peternak, sebagai salah satu bagian program Ketahanan Pangan.

Menurut Direktur BUMDes Karya Sejahtera, Ni Nyoman Wiwik Budiani untuk program ketahanan pangan khususnya sektor ternak babi telah dimulai sejak tahun 2022. Dan itupun dilakukan bertahap kalau ada penyertaan modal dari Desa. Dimana program menyasar kelompok-kelompok yang sudah terbentuk dulu dengan dana 20% dari penyertaan modal Desa. Untuk kelompok yang ada berjumlah 10 orang.

Baca Juga : Kasus BUMDes Subaya Terkuak, Kejari Bangli Bui Pengawas Gegara Abaikan Panggilan

Kemudian dalam pelaksanaanya masing-masing orang tersebut mendapat jumlah bibit bervariasi sesuai kemampuannya dan dana yang ada. Semisal saat ada 40 bibit masing-masing kelompok ada dapat 5, 7 dan yang lain mungkin lebih. “Semua sesuai kemampuan orang dalam kelompok dan penyertaan dana dari Desa”, terangnya didampingi bagian perencanaan, Wayan Sugiantara dan staff Kantor Desa Bangbang, Selasa 5 Agustus 2025.

Lebih lanjut dikatakan untuk awal pengelolaan pihaknya menerapkan pola kerjasama bersama kelompok dengan sistem bagi hasil 35 % ke BUMDes dan 65 % ke pengubuh. Dari prosentase tersebut dilakukan setelah potong penjualan dari pokok (keuntungan) yang dibagi. Untuk dana tahun lalu sebesar Rp. 173 juta. Untuk permodalan dari BUMDes berupa bibit dan pakan sedangkan pengubuh berupa tenaga, tempat, listrik dan air.

Dan ketika dalam perjalanan mengalami kematian babi maka baik Bumdes maupun pengubuh tidak mendapatkan apa-apa dan kedua pihak tidak bisa menuntut sesuai perjanjian yang telah disepakati.

“Dari sekian kelompok ada yang mendapat keuntungan saat harga babi naik, sementara ada beberapa yang rugi saat harga anjlok dan akibat kematian babi. Sehingga berimbas pada kerugian kemitraan BUMDes dan pengubuh”, terang Wiwik.

Baca Juga : 22 Bumdes di Bangli Belum Berbadan Hukum, Dinas PMD Upayakan Sosialisai

Ia juga mengungkapkan sejauh ini pihaknya telah menjalani bertahun tahun pengelolaan ternak babi dengan bermitra kepada kelompok yang ada. Terkait ternak babi yang mati sebelumnya telah melakukan upaya penyuntikan dan memberi vitamin. Akan tetapi kalau virus tidak bisa diprediksi. Dan jika ada ternak babi mati, kelompok harus melaporkan ke BUMDes dilengkapi dokumen babi tersebut.

Sementara untuk pengawasan yang berjalan selama ini pihaknya tidak terjun langsung hanya menerima laporan dari pengubuh (peternak) dan Kepala UPT. “Dan untuk laporan pertanggung jawaban BUMDes ke Desa terlebih dahulu melapor ke penasehat (Perbekel) untuk kemudian dibahas dalam Musdes dan Desa menerima laporan pertanggung jawaban BUMDes setelah Musyawarah Desa (Musdes)”, pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *