Persindonesia.com Jembrana – Keberadaan monyet di sepanjang jalan Denpasar Gilimanuk tepatnya di daerah Cekik, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, semakin hari semakin banyak yang nangkring di sisi jalan menunggu makanan pemberian dari pengendara yang lewat disana. Bahkan keberadaan monyet tersebut juga membuat pengendara terganggu, lantaran mereka tidak hanya diam disisi jalan, akan tetapi kerap sekali mereka nyebrang jalan, sehingga tidak sedikit yang mati tertabrak kendaraan.
Selain itu, keberadaan monyet tersebut juga menjadi tontonan gratis bagi pengendara yang lewat disana, kerap sekali mereka memberi makan sehingga mereka berebutan mencari makanan. Akibat seringnya diberi makan dipinggir jalan oleh pengendara yang lewat, semakin hari semakin banyak hewan yang nangkring disisi jalan raya dan menjadi malas kembali ke tengah hutan.
Wagub Cok Ace Gelar Rakor Sikapi Penipuan Money Changer
Padahal sebelumnya Petugas kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sudah pasang larangan untuk tidak memberi makan kepada satwa liar di kawasan tersebut. “Kami sudah pasang plang larangan, akan tetapi masyarakat yang lewat tetap memberikan makanan kepada hewan tersebut, entah dikarenakan kasian, mereka tidak berpikir bahwa itu akan mengakibatkan bahaya kepada hewan tersebut dikarenakan berebutan ambil makanan sehingga bisa tertabrak kendaraan,” terang Kepala Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Agus Ngurah Krisna saat dikonfirmasi. Selasa (26/07/2022).
Selain untuk menghindari monyet tertabrak kendaraan, larangan memberi makan hewan juga bisa mengganggu kemampuan hewan untuk mencari makanan di alam bebas. “Hewan merasa sangat mudah mencari makanan, sehingga mereka tidak perlu lagi mencari makan di hutan, kalu terus seperti ini, takutnya semakin banyak hewan yang akan datang ke pinggir jalan,” ujarnya.
Nyambi Jualan Sabu Tungkang Pangkas Rambut di Tangkap Polisi
Hewan yang terbiasa di beri makan, lanjut Krisna, akan lebih memilih menunggu makanannya dan cenderung malas daripada harus mencari dan bersaing dengan hewan lainnya di hutan, “jika ada pengendara yang memberi makan otomatis hewan yang lain akan berlarian mencari sumber makan tersebut, sehingga akan beresiko bagi pengendara menabrak hewan yang lalu-lalang, itu sangat membahayakan bagi pengendara dan satwa itu sendiri,” jelasnya.
Maka dari itu, lanjut Krisna, pihaknya menghimbau bagi pengendara agar tidak memberi makan satwa-satwa yang ada di wilayah TNBB dan ikut menjaga hewan yang ada di wilayah kawasan konservasi tersebut. “Tidak hanya kita melindungi satwa tersebut dari resiko tertabrak, namun untuk pengendara juga berbahaya jika menabrak hewan karena dapat berakibat terjadinya lakalantas, kami sangat menghimbau hal itu,” tegasnya.
Hoax dan Konspirasi dalam Fenomena Penghakiman Publik
Selain larangan di media sosial yang dilakukan, lanjut Krisna, pihaknya juga sudah memasang plang larangan di jalur masuk maupun keluar wilayah TNBB, “kita sudah pasang juga plang-plang larangan, seperti di wilayah utara (Buleleng) dan di Jalur Nasional Denpasar-Gilimanuk. Mungkin banyak pengendara yang tidak tahu karena ini jalur Nasional jadi susah memantau,” imbuhnya.
Terkait jumlah hewan mati tertabrak kendaraan, krisnya mengatakan, hingga saat ini masih berum dapat diprediksi, jika mati tertabrak tidak ada yang melapor. “Menurut data tahun 2015, terdata hewan rusa mati sebanyak 900 sampai 1200 ekor. Untuk hewan monyet sampai hari ini belum didata. Saya menghimbau kepada pengendara tolong ikut menjaga satwa ini, jangan sampai niat kita untuk ngasi makan malah satwa tersebut tertabrak kendaraan,” tutupnya. Ida






