Turis Italia Lorenzo dan Emma Kagumi Budaya Bali, Kemacetan Ubud Dinilai Perlu Solusi Tanpa Hilangkan Karakter

Pesona Keindahan dan Kultur Bali Tetap Membekas dihati  Lorenzo, Diantara Kemacetan Ubud 

DENPASAR Persindonesia.com – Keindahan alam, kekayaan budaya, serta keramahan masyarakat Bali meninggalkan kesan mendalam bagi Vezzani Lorenzo, wisatawan asal Italia yang berlibur bersama putrinya, Emma. Setelah sebelumnya mengunjungi Lombok, keduanya kembali ke Bali untuk menikmati sejumlah destinasi wisata di Pulau Dewata.

Menurut Lorenzo, Bali memiliki daya tarik yang sulit ditemukan di tempat lain. Panorama alam yang indah berpadu dengan tradisi, kehidupan masyarakat, serta keberagaman budaya yang menurutnya sangat kuat dan penuh toleransi.
Meski demikian, perjalanan Lorenzo juga memberikan sejumlah catatan. Salah satunya adalah persoalan kemacetan yang cukup dirasakan ketika memasuki kawasan Ubud, khususnya di pusat kota. “Bali sangat indah. Panorama tradisional, budaya dan masyarakatnya yang penuh toleransi membuat kami sangat menikmati perjalanan. Tetapi ketika memasuki Ubud, terutama di pusat kota, kemacetannya cukup terasa,” ujar Lorenzo.

Ia menilai persoalan lalu lintas merupakan tantangan yang juga dihadapi sejumlah kawasan wisata di berbagai negara, termasuk Italia. Karena itu, menurutnya, penyelesaian kemacetan di Bali harus mempertimbangkan karakter kawasan dan tidak mengorbankan keaslian lingkungan.
Lorenzo memberi pertimbangan konsep jalan lingkar untuk mengalihkan kendaraan yang hanya melintas agar tidak masuk ke pusat Ubud. Menurutnya, solusi tersebut dapat menjadi pilihan dibandingkan memperlebar jalan dengan menggusur rumah atau bangunan milik masyarakat. “Turis datang ke Bali ingin melihat sesuatu yang natural. Jangan sampai solusi kemacetan justru menghilangkan apa yang menjadi daya tarik Bali,” katanya.
Ia juga melihat persoalan serupa dapat dipertimbangkan untuk kawasan wisata padat lainnya, seperti Kuta. Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan, menurutnya, membutuhkan konsep penataan lalu lintas yang lebih kreatif dan berkelanjutan.

Namun, bukan hanya persoalan kemacetan yang menjadi perhatian Lorenzo. Sebagai wisatawan yang memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan semua makhluk hidup, ia mengaku menyayangkan masih ditemukannya praktik adu ayam di Bali.
Telah dijelaskan oleh guaidnya terkait tajen tabuh rah, Lorenzo memahami bahwa metajen dalam konteks tertentu berkaitan dengan tradisi tabuh rah yang memiliki makna ritual bagi masyarakat Hindu Bali. Meski demikian, dari sudut pandang kepeduliannya terhadap hewan, ia tetap merasa prihatin karena praktik tersebut dapat menyebabkan binatang terluka bahkan mati.
“Saya menghormati budaya dan tradisi Bali, tetapi sebagai penyayang semua makhluk, saya menyayangkan, walaupun dikaitkan dengan uoacara namun tetap menyakiti binatang,” ungkapnya.

Menurut Lorenzo, kekayaan budaya Bali justru akan semakin menarik apabila nilai-nilai tradisi dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan seluruh makhluk hidup.
Selama berada di Bali, Lorenzo dan Emma mendapatkan pendampingan dari seorang guida atau pemandu wisata yang khusus melayani wisatawan asal Italia. Pendampingan tersebut membuat keduanya lebih mudah mengenal berbagai destinasi, budaya dan kehidupan masyarakat Bali.
Bagi Lorenzo, berbagai catatan tersebut tidak menghapus kekagumannya terhadap Pulau Dewata. Kemacetan maupun perbedaan pandangan terhadap sejumlah praktik budaya dinilainya sebagai bagian dari dinamika sebuah daerah wisata.
Ia berharap Bali tetap mampu mempertahankan keaslian alam, budaya, keramahan masyarakat dan karakter tradisionalnya di tengah perkembangan pariwisata. “Bali sangat indah. Kemacetan bisa dicari solusinya, begitu juga berbagai persoalan lainnya. Tetapi keindahan, budaya dan keaslian Bali harus tetap dijaga,” ujarnya.
Bagi Lorenzo dan Emma, perjalanan di Bali pada akhirnya bukan sekadar liburan. Pulau Dewata meninggalkan pengalaman budaya yang menurut mereka akan tetap tersimpan dalam sanubari.

(Karang)