Raksasa Hidimba Hadir Di Petangan Gede Dalam Ogoh-Ogoh Karya Anak Muda Ramaikan Pengerupukan Ubung Kaja

Denpasar, persindonesia.com – Suasana perayaan pengerupukan tahun Caka 1948 di Banjar Petangan Gede, Desa Ubung Kaja, semakin meriah dengan kehadiran ogoh-ogoh bertema Raksasa Hidimba, yang dibuat oleh Sekeha Teruna Dharma Bhakti Mandala (ST.DBM). Kegiatan yang akan digelar pada saat malam pengerupukan ini menjadi bukti kreativitas anak muda dalam menghidupkan nilai-nilai dalam cerita pewayangan Hindu Bali Mahabharata. Jumat 27/2/2026.

Cerita Hidimba, mengangkat sosok raksasa yang dikenal sebagai Raja Raksasa yang sangat sakti dan kejam, tinggal di hutan bersama saudara perempuannya, Hidimbi. Kisahnya bermula ketika Pandawa beserta ibu mereka Kunti melarikan diri ke hutan setelah selamat dari pembakaran Istana Lac. Saat itu, Adhimba yang mencium aroma manusia berniat memakannya dan menyuruh Hidimbi untuk memastikan keberadaan mereka. Namun, Hidimbi justru jatuh cinta pada Bima saat melihat sosoknya yang gagah berani.

Ketika Hidimbi menolak perintah kakaknya dan memperingatkan Bima, Hidimba marah dan menyerang. Pertarungan sengit pun terjadi, hingga akhirnya Bima berhasil mengalahkannya. Setelah itu, dengan izin Kunti, Bima menikahi Hidimbi dan dikaruniai seorang putra sakti bernama Ghatotkacha, yang kelak menjadi pahlawan penting dalam Perang Kurukshetra. Kisah ini menyampaikan pesan mendalam bahwa cinta bisa tumbuh di tengah permusuhan, kebaikan akan mengalahkan kejahatan, dan dari perbedaan bisa lahir sosok pahlawan besar.

Dengan sangat antusias, Koordinator Ogoh-Ogoh ST.DBM, I Made Wida Nugraha, mengungkapkan bahwa pembuatan ogoh-ogoh ini melibatkan seluruh muda mudi banjar Petangan Gede dan pada saat pementasan akan melibatkan anak-anak serta seluruh warga Banjar Petangan Gede. Acara akan diiringi tetabuhan baleganjur dan diikuti drama tari yang mengangkat kisah Raksasa Hidimba,” jelasnya.

Koordinator Ogoh Ogoh ST. DBM Br. Petangan Gede Ubung Kaja Denpasar Utara : I Made Wida Nugraha. 

Pengerjaan proyek ini sudah sejak Januari 2026 dan diharapkan rampung total seminggu sebelum malam pengerupukan dengan menghabiskan dana kurang lebih 25 juta. “Kami sangat mengharapkan dukungan dari seluruh anggota ST.DBM dan masyarakat agar acara berjalan sukses dan lancar,” tambah Dek Wida seperti dikutip pada Selasa (24/2/2026).

Kelian Adat Banjar Petangan Gede, A.A. Ngurah Mayun Trinanditya, turut menyampaikan dukungannya, “Peringatan Nyepi dan pengerupukan bukan hanya tentang tradisi semata, melainkan juga sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan menanamkan nilai-nilai luhur dari cerita-cerita leluhur kepada generasi muda. Ogoh-ogoh dengan tema Hidimba ini sangat tepat karena mampu menyampaikan pesan yang relevan hingga saat ini, saya sebagai kelian adat Banjar Petangan Gede mengharapkan kepada seluruh warga Banjar memberikan dukungannya kepada adik adik sekeha teruna kita, agar dalam pelaksanaan pementasan serta pengarakan keliling hingga batas wilayah Banjar kita bisa berjalan dengan sukses dan aman sampai selesai, “Pungkas Gung Mayun.

Perayaan Hari Raya Nyepi Caka 1948 di Bali saat ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, dimana seluruh warga khususnya di Denpasar diharapkan tetap menjaga toleransi serta saling menghargai antar umat beragama agar Bali sebagai barometer pariwisata tetap aman dan nyaman dimata dunia.

Dudick

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *