Persindonesia.com Jembrana – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana masih mengkaji rencana regrouping sembilan sekolah dasar, meskipun dua sekolah telah dipastikan siap digabung dan akan mulai direalisasikan pada Januari 2026. Kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keterbatasan guru, distribusi kepala sekolah, serta kondisi wilayah.
Saat dikonfirmasi usai pelantikan pejabat Pemkab Jembrana di Kebun Coklat Banjar Moding, Desa Candikusuma, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra mengatakan, rencana regrouping terhadap sembilan sekolah dasar (SD) masih melalui tahap kajian. Meski demikian, dua sekolah telah dipastikan untuk diregrouping dan akan mulai dilaksanakan pada Januari 2026.
“Untuk rencana regrouping sembilan sekolah, saat ini kami masih melakukan kajian. Namun memang ada beberapa yang sudah kami konfirmasi dan sifatnya sudah final,” ujarnya, Jumat (2/1).
Ibu dan Anak Jadi Korban Tewas Akibat Kecelakaan Maut di Yehembang Kangin
Ia menjelaskan, pelaksanaan regrouping tidak dilakukan secara serentak, melainkan bertahap. Hal tersebut mempertimbangkan proses pendistribusian kepala sekolah dan guru yang dilakukan melalui sistem aplikasi nasional. Dalam proses tersebut, ditemukan sejumlah kepala sekolah yang belum memenuhi persyaratan, seperti masa jabatan yang belum mencapai dua tahun.
“Karena distribusi kepala sekolah dan guru dilakukan melalui aplikasi, ada yang belum bisa kami pindahkan karena masa jabatannya belum dua tahun. Ini masih dalam proses,” jelasnya.
Dua sekolah yang telah dipastikan diregrouping adalah SD Negeri 3 Penyaringan dan SD Negeri 5 Yehembang Kauh. Sementara itu, dua sekolah lainnya, yakni SD Negeri 5 Batuagung dan SD Negeri 2 Pulukan, masih dalam tahap kajian ulang.
“Untuk dua sekolah tersebut, kami kaji kembali. Jika pun regrouping ditunda, sekolah itu tetap masuk dalam evaluasi. Ada permintaan penundaan dari pihak sekolah, dan kami berikan, tetapi tetap kami pantau,” katanya.
Menurut Anom Saputra, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan komite sekolah dan pemerintah desa setempat. Meski terdapat potensi penambahan siswa pada tahun ajaran mendatang, pihaknya tetap ingin memastikan kelayakan sekolah tersebut berdasarkan data dan kondisi riil di lapangan.
Ia menambahkan, regrouping dilakukan dengan mempertimbangkan rasio guru dan sekolah yang dinilai saat ini sangat tidak ideal. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya pengangkatan guru baru sejak 2019, sementara jumlah guru yang memasuki masa pensiun terus bertambah.
Dari Kebun Kakao, Bupati Kembang Tegaskan Birokrasi Harus Berpihak pada Petani
“Tahun depan sudah pasti tidak ada pengangkatan guru, sementara yang pensiun masih banyak. Di sisi lain, sekarang kita juga tidak bisa lagi mengangkat guru kontrak atau honor sekolah seperti dulu. Karena itu, perencanaan harus dilakukan sejak awal agar tidak terjadi kekurangan guru yang sangat parah,” tegasnya.
Selain rasio guru, Disdikpora juga mempertimbangkan aspek wilayah dan jarak antar sekolah. Anom Saputra menegaskan, tidak semua sekolah dengan jumlah murid sedikit langsung dievaluasi untuk regrouping, terutama jika jarak dengan sekolah terdekat cukup jauh.
“Ada sekolah dengan murid sedikit tapi jaraknya sangat jauh, sampai sekitar delapan kilometer. Itu tidak mungkin kita paksakan untuk regrouping. Yang kami gabung adalah sekolah dengan murid sedikit dan memiliki sekolah terdekat,” ujarnya.
Eks Jubir Covid 19 Jembrana Resmi Nahkodai RSU Negara
Ia menegaskan, dari sembilan sekolah yang direncanakan, hanya sebagian yang siap diregrouping dalam waktu dekat. Untuk tahap awal, regrouping SDN 3 Penyaringan dan SDN 5 Yehembang Kauh akan mulai dilaksanakan pada Januari 2026.
“Guru dan kepala sekolahnya sudah kami petakan. Yang sudah siap akan kami jalankan, sementara lainnya tetap kami kaji secara bertahap,” pungkasnya. Ts






