Persindonesia.Com,Bangli – Sebagai upaya meningkatkan inovasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangli, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cempaga yang beralamat di Lingkungan/Banjar Sidembunut, Desa Cempaga, Kec/Kab Bangli tengah merancang sistem prasmanan. bagi penerima manfaat tingkat SMP, SMA, dan SMK yang masuk wilayah layanannya.
Langkah ini disebut sebagai upaya meningkatkan transparansi, akuntabilitas, sekaligus efektivitas pelayanan makanan bagi penerima manfaat (siswa) tingkat SMP, SMA, dan SMK yang masuk wilayah layanannya.
Baca Juga : Bupati Sedana Arta Tekankan Pentingnya Pembelajaran Mendalam dan Kesejahteraan Guru
Uji coba prasmanan pertama dilakukan di SMK 4 Bangli pada Kamis (30/4/2026), bertepatan dengan perayaan HUT sekolah. Sekitar 700 siswa masuk dalam daftar penerima manfaat di sekolah ini.
Pemilik Dapur SPPG Bangli Bangli Cempaga, I Gusti Agung Jelantik Sutha Baskara mengungkapkan pihaknya sudah memiliki rencana pengembangan layanan ke depan.
Ini sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas. Astungkara nanti untuk SMP, SMA, dan SMK yang masuk wilayah layanan kami akan menggunakan sistem prasmanan. “Saat ini kami uji coba di SMK 4,” jelasnya.
Menurutnya, jumlah penerima manfaat di jenjang SMP, SMA dan SMK yang masuk wilayah layanan dapur ini ada sekitar 2.000 siswa, sehingga sistem prasmanan dinilai lebih efektif. Untuk jenjang SD jumlahnya mencapai sekitar 1.700 siswa. Dimana distribusi tetap dilakukan menggunakan wadah yang sudah ditentukan, karena dalam satu sekolah, jumlah penerimaan manfaat tidak terlalu banyak.
Meski sistem prasmanan, untuk porsi makanan termasuk kandungan gizinya tetap terkontrol. “Nanti ada petugas yang akan mengawasi,” kata Baskara.
Kata Agung Baskara, sebagai bentuk transparasi dan pertanggungjawaban kepada masyarakat, maka dapur SPPG Bangli Bangli Cempaga juga membuka ruang kritik secara terbuka.
Baca Juga : Dua Dapur Sehat SPPG di Jembrana Ditutup Sementara, Ribuan Siswa Terdampak
Menu yang disajikan setiap hari diunggah melalui media sosial (Medsos) resmi dapur. Apabila ada penerima manfaat yang tidak bisa datang langsung atau menghubungi pihak dapur, bisa mengkritisi lewat medsosnya.
“Ini bentuk transparansi. Makanan yang kami upload adalah makanan yang benar-benar diberikan kepada penerima manfaat,” sebutnya.
Tak hanya foto makanan, dapur juga memublikasikan rincian anggaran serta kandungan gizi dari setiap menu. “Biar tidak ada istilah beli kucing dalam karung, kami ingin program pusat ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ungkap Agung Baskara.






