Jembrana Lolos dari Krisis SPMB, Semua Pendaftar SMP Negeri Kebagian Bangku

Persindonesia.com Jembrana – Ketika sejumlah daerah masih dihadapkan pada persoalan membludaknya pendaftar dan redistribusi siswa saat Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), kondisi berbeda justru terjadi di Kabupaten Jembrana. Seluruh calon peserta didik yang mendaftar ke SMP negeri pada Tahun Ajaran 2026/2027 berhasil tertampung sesuai kapasitas sekolah, hasil dari pemetaan yang telah disiapkan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) sejak jauh hari sebelum proses penerimaan dimulai.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pemetaan yang dilakukan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Jembrana jauh sebelum proses penerimaan dimulai. Selain memetakan jumlah lulusan SD, dinas juga menghitung persebaran calon peserta didik, kapasitas masing-masing sekolah, hingga mengusulkan penambahan jumlah siswa dalam rombongan belajar (rombel) di sekolah-sekolah yang diprediksi mengalami lonjakan pendaftar.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, mengatakan seluruh tahapan SPMB tahun ini berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

“Kalau SMP secara umum, karena sudah kami petakan sejak awal, kami menganggap tahun ini memang tidak ada masalah. Dari sisi ketersediaan kuota semua jalur, seperti prestasi, perpindahan orang tua maupun afirmasi, rata-rata justru kuotanya tidak terisi penuh. Itu memang tidak bisa dipaksakan,” ujarnya, Senin (20/7).

Bantuan Alsintan Mengalir ke Tujuh Subak, Bupati Kembang Optimistis Hasil Panen Petani Meningkat

Menurut Anom, jalur domisili menjadi jalur yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat. Namun, berkat perhitungan kebutuhan dan kapasitas sekolah yang telah dilakukan sebelumnya, seluruh pendaftar tetap dapat diterima di sekolah tujuan sesuai hasil pemetaan.

Dikpora juga mengantisipasi potensi membludaknya pendaftar di beberapa sekolah favorit dengan mengusulkan penambahan kapasitas rombel hingga maksimal 40 siswa per kelas. Usulan tersebut disetujui pemerintah pusat sehingga daya tampung sejumlah SMP dapat ditingkatkan.

“Yang sejak awal kami khawatirkan itu SMP Negeri 1 Negara dan SMP Negeri 2 Negara. Syukurlah dengan tambahan rombel, semuanya bisa teratasi,” kata Anom.

Meski pelaksanaan SPMB berjalan tanpa kendala berarti, Dikpora masih menerima sejumlah masukan dari masyarakat terkait penetapan wilayah domisili. Salah satunya datang dari warga Lingkungan Sawe Munduk Waru, Kelurahan Dauhwaru, yang mempertanyakan tidak masuknya wilayah mereka dalam prioritas penerimaan di SMP Negeri 1 Negara.

Pelaku Pembunuhan Nyoman Colik Terancam Pasal Berlapis

Anom menjelaskan, penentuan wilayah domisili tidak hanya mengacu pada batas administrasi desa atau kelurahan, tetapi juga mempertimbangkan jarak ke sekolah, kapasitas yang tersedia, serta kepadatan penduduk di sekitar sekolah.

Menurutnya, meski secara administratif berada di Kelurahan Dauhwaru, Lingkungan Sawe Munduk Waru berada pada ring terluar dari SMP Negeri 1 Negara. Sementara kawasan di sekitar sekolah tersebut memiliki jumlah penduduk dan anak usia sekolah yang cukup tinggi sehingga menjadi prioritas dalam jalur domisili.

“Kalau dihitung berdasarkan jarak, wilayah itu masuk ring yang paling jauh terhadap SMP Negeri 1 Negara. Di sekitar SMP Negeri 1 sendiri penduduknya sangat padat dan jumlah anak usia sekolah juga tinggi. Karena itu, dalam pemetaan kemarin wilayah tersebut kami arahkan ke SMP Negeri 3 Negara,” jelasnya.

Masukan dari masyarakat tersebut, lanjut Anom, akan menjadi bahan evaluasi dalam penyempurnaan kebijakan SPMB pada tahun-tahun berikutnya. Dikpora akan kembali mengkaji efektivitas pemetaan wilayah domisili agar pemerataan akses pendidikan tetap berjalan seiring dengan kemampuan masing-masing sekolah menampung peserta didik.

Lantik Sembilan Perbekel Terpilih, Bupati Bangli Target Data Perlinsos Tuntas Dua Minggu

Ia menegaskan, capaian terpenting pada pelaksanaan SPMB tahun ini adalah seluruh lulusan SD yang mendaftar ke SMP negeri berhasil memperoleh tempat tanpa adanya sekolah yang mengalami kelebihan kapasitas.

“Sampai saat ini tidak ada distribusi siswa. Tidak ada sekolah yang kelebihan murid sehingga harus kami distribusikan ke sekolah lain. Semua masih bisa tertampung sesuai hasil pemetaan yang sudah kami siapkan sejak awal,” pungkasnya. HJ

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *