Hanya Terima di Bawah 10 Murid, Nasib 21 SD di Jembrana Dievaluasi

Persindonesia.com Jembrana – Sebanyak 21 dari 181 sekolah dasar (SD) di Kabupaten Jembrana tercatat menerima kurang dari 10 murid baru pada tahun ajaran 2026/2027. Kondisi ini membuat Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Jembrana kembali melakukan pemetaan terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik.

Saat dikonfirmasi di kantornya, Kepala Dikpora Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, menegaskan minimnya jumlah murid baru tidak serta-merta menjadi alasan untuk melakukan regrouping atau penggabungan sekolah.

Menurutnya, setiap sekolah akan dievaluasi secara menyeluruh dengan mempertimbangkan potensi peserta didik di wilayah tersebut, kondisi geografis, jarak dengan sekolah lain, hingga ketersediaan tenaga pendidik.

“Untuk tingkatan SD memang ada beberapa sekolah yang jumlah murid barunya masih di bawah 10 orang. Ada yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi bahan evaluasi, tetapi ada juga sekolah yang baru mengalami kekurangan murid tahun ini,” ujarnya, Senin (20/7).

Tiga Aliansi Sopir Geruduk DPRD Jembrana, Soroti Macet Gilimanuk dan Rencana Dermaga Celukan Bawang

Ia menjelaskan, sekolah-sekolah yang selama ini mengalami kekurangan peserta didik akan kembali dikaji bersama pemerintah desa, komite sekolah, dan orang tua siswa. Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan apakah wilayah tersebut masih memiliki potensi anak usia sekolah.

Ia mengaku, beberapa sekolah sebelumnya sempat ditunda regrouping setelah pemerintah desa dan masyarakat menyampaikan bahwa masih terdapat potensi peserta didik. Namun, hasil SPMB tahun ini menunjukkan sebagian sekolah tersebut tetap mengalami kekurangan murid.

“Kami dulu sudah berkomunikasi dengan perangkat desa dan orang tua. Mereka menyampaikan sekolah itu masih punya potensi. Sekarang yang kami pertanyakan, kalau memang potensinya ada, kenapa keterisian muridnya tetap sedikit? Itu yang akan kami evaluasi kembali,” katanya.

Di sisi lain, Anom mengakui terdapat sekolah yang secara faktual sudah tidak memiliki potensi peserta didik. Salah satunya SDN 5 Pohsanten yang pada tahun ajaran baru ini hanya menerima dua murid.

Bupati Dan Ketua K3s Badung Sambangi Warga Disabilitas Di Abianbase

Berdasarkan hasil peninjauan, kata Anom, jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut memang sangat terbatas. Namun, kondisi berbeda terjadi di SDN 3 Asahduren yang hanya menerima empat murid baru.

Meski jumlah siswanya minim, sekolah tersebut belum tentu menjadi kandidat regrouping karena lokasinya cukup jauh dari sekolah negeri terdekat. “Bukan hanya melihat jumlah murid, tetapi juga mempertimbangkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan,” jelasnya.

Pihaknya juga mengevaluasi jumlah siswa pada seluruh jenjang kelas di masing-masing sekolah. “Sebab, terdapat sekolah yang penerimaan murid barunya rendah, tetapi jumlah siswa pada kelas lainnya masih cukup memadai sehingga operasional sekolah masih dapat berjalan,” jelasnya.

Anom menyebut regrouping nantinya hanya akan diprioritaskan bagi sekolah yang selama beberapa tahun berturut-turut mengalami kekurangan murid, memiliki keterisian kelas yang rendah, berlokasi dekat dengan sekolah lain, serta memiliki pertimbangan dari sisi ketersediaan tenaga pendidik.

Musim Kemarau, Sumur Bor SMPN 3 Melaya Mengering, BPBD Jembrana Salurkan 5.000 Liter Air

“Strateginya salah satunya memang regrouping, tetapi tidak akan kami paksakan. Sekolah yang dekat dengan sekolah lain dan jumlah siswanya memang terus minim itulah yang menjadi prioritas untuk dipertimbangkan,” tegasnya.

Ia juga menegaskan, regrouping tidak sama dengan penutupan sekolah. Kebijakan tersebut merupakan penggabungan operasional dua atau lebih sekolah agar penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan lebih efektif.

“Regrouping bukan berarti menutup sekolah. Yang digabung hanya operasionalnya. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Saat ini semuanya masih dalam tahap evaluasi dan belum ada keputusan untuk melakukan regrouping,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkab Jembrana telah melakukan regrouping terhadap tiga SD negeri pada awal Januari 2026. Ketiga sekolah tersebut yakni SDN 3 Penyaringan yang digabung ke SDN 2 Penyaringan, SDN 5 Penyaringan ke SDN 4 Tegal Cangkring, serta SDN 3 Yehembang Kauh ke SDN 1 Yehembang Kauh.

Konsleting Listrik Hanguskan Rumah Warga Kintamani saat Ditinggal ke Kebun

Sementara itu, enam sekolah lain yang sempat direncanakan untuk digabung masih ditangguhkan setelah pemerintah desa dan komite sekolah mengajukan permohonan dengan alasan masih terdapat potensi penambahan peserta didik.

Berdasarkan hasil SPMB tahun ajaran 2026/2027, Kecamatan Mendoyo menjadi wilayah dengan jumlah SD yang menerima kurang dari 10 murid baru terbanyak, yakni 12 sekolah. Selanjutnya, Kecamatan Pekutatan terdapat empat SD, Kecamatan Jembrana tiga SD, dan Kecamatan Melaya dua SD. Ts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *